Oleh: Aqidatul Jannah, mahasiswa STITA Sumenep
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) sebagaimana kita saksikan saat ini bukan lagi sekadar lompatan besar dalam dunia sains, melainkan gelombang disrupsi yang menjangkau hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
Algoritma kini mampu menulis karya ilmiah, mendiagnosis penyakit dengan tingkat presisi tinggi, hingga mereplikasi empati dalam percakapan. Dari sudut pandang ilmu pengetahuan, capaian ini merupakan puncak kemajuan komputasi.
Namun, di balik glorifikasi teknologi tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang patut direnungkan.
Ketika mesin perlahan menjadi semakin “pintar”, apakah manusia justru berisiko semakin teralienasi dan kehilangan kehangatan nuraninya?
Realitas kontemporer menunjukkan fenomena yang patut menjadi perhatian. Ketergantungan yang semakin besar terhadap AI dan ekosistem digital secara perlahan berpotensi mengikis kecerdasan emosional, kemampuan berpikir kritis, serta kualitas interaksi sosial masyarakat. (*)




