oleh: Faizi Haseho, aktivis sekaligus pegiat media siber
OPINI, LensaMadura.com – Beberapa waktu terakhir, saya mengikuti dengan cukup saksama pergerakan sebuah kanal pemberitaan yang tampaknya memiliki perhatian khusus terhadap isu hiburan malam di Kabupaten Sumenep.
Setidaknya ada dua pemberitaan yang melintas di hadapan saya. Jika dicermati, keduanya seperti dirajut dengan benang merah yang sama: menjadikan kafe dan tempat hiburan malam sebagai panggung utama dalam pembahasan berbagai persoalan sosial yang dianggap mengusik ketenteraman publik.
Pada pemberitaan pertama, sejumlah nama muncul ke permukaan. Harmony Cafe, Lotus, hingga Potre menjadi bagian dari narasi yang mengaitkan tempat-tempat tersebut dengan dugaan peredaran minuman keras dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
Tema semacam ini memang selalu memiliki daya ledak tersendiri. Ia mudah menarik perhatian. Ia cepat memancing reaksi. Sekali dilempar ke ruang publik, percakapan bergerak ke mana-mana. Dukungan berdatangan. Pertanyaan bermunculan. Bahkan tak jarang, vonis lahir lebih cepat daripada kesimpulan.
Belum lama gema pemberitaan itu mereda, sorotan kembali bergeser, meski masih berjalan di rel yang sama. Kanal yang sama kembali mengangkat isu hiburan malam dengan menghadirkan suara aktivis yang mendorong tindakan lebih tegas terhadap tempat-tempat yang dianggap bermasalah.
Di titik itulah nama Mr Ball dan JBL ikut masuk ke dalam lingkaran perhatian. Keduanya menjadi bagian dari diskursus yang kembali menghangat tentang keberadaan hiburan malam di Kabupaten Sumenep.
Jika diperhatikan lebih jauh, pola ini menghadirkan kesan yang menarik. Dari satu pemberitaan ke pemberitaan berikutnya, dari satu nama ke nama lainnya, fokus perhatian seolah tidak pernah jauh dari lampu-lampu kafe, musik malam, dan segala cerita yang mengitarinya.
Seolah ada sebuah panggung yang terus-menerus disinari lampu sorot. Aktornya boleh berganti. Nama tempatnya boleh berubah. Namun arah cahaya tetap tertuju pada titik yang sama.
Tentu saja, setiap media memiliki hak menentukan fokus pemberitaannya. Itu bagian dari kebebasan pers yang harus dihormati. Begitu pula para aktivis yang memilih jalan advokasinya masing-masing. Itu juga bagian dari kebebasan berekspresi dalam ruang demokrasi.
Saya teringat sebuah kalimat dari Tan Malaka yang hingga hari ini masih sering dikutip: “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda.”
Kalimat itu indah. Terlalu indah bahkan jika hanya dijadikan penghias status media sosial atau pelengkap narasi perjuangan.
Sebab idealisme sejatinya bukan diukur dari seberapa keras seseorang bersuara. Ia justru diuji pada seberapa panjang napas yang dimiliki untuk terus berjalan ketika sorak-sorai mulai menghilang.
Di sinilah saya menaruh harapan kepada para aktivis yang hari ini begitu bersemangat menyoroti isu hiburan malam.
Saya ingin melihat mereka hadir sebagai aktivis yang kaffah. Aktivis yang utuh. Aktivis yang berjalan di atas rel Ihdinas Shiratal Mustaqim—jalan lurus yang tidak berbelok mengikuti arah angin atau keramaian isu.
Aktivis yang tidak hanya datang ketika lampu sorot sedang menyala terang, tetapi juga tetap berdiri ketika perhatian publik mulai redup. Sebab persoalan sosial di daerah ini tidak hanya berhenti pada dugaan miras atau hiburan malam.
Ada kemiskinan yang belum selesai dibereskan. Ada pengangguran yang masih menjadi pekerjaan rumah. Ada pendidikan yang membutuhkan pengawalan. Ada pelayanan publik yang perlu terus diawasi. Ada proyek-proyek pembangunan yang layak mendapatkan perhatian yang sama seriusnya.
Jika keberanian itu benar-benar lahir dari idealisme, maka ia semestinya hadir di semua ruang. Bukan hanya pada ruang yang sedang ramai diperbincangkan.
Karena itu, saya menunggu ritme idealisme tersebut. Saya menunggu konsistensi kawalan itu.
Saya menunggu bagaimana energi kritik yang hari ini tampak begitu tera’ mancorong begitu terang menyala, tidak hanya digunakan untuk memburu kerlip lampu hiburan yang diduga bernuansa miras, tetapi juga diarahkan kepada persoalan-persoalan lain yang tak kalah penting bagi masyarakat.
Dan ketika catatan ini berdansa di ruang publik, terus terang saya juga menunggu satu hal yang lebih konkret.
Bila memang hiburan malam dianggap sebagai sumber persoalan, bila memang ada tempat-tempat yang dinilai menggerus identitas religius daerah, maka publik tentu menunggu keberanian yang tidak berhenti pada pernyataan dan cuap-cuap belaka. Amboi.
Sebab sejarah perubahan tidak pernah ditulis oleh narasi semata. Ia ditulis oleh tindakan.
Jangan sampai yang tersisa hanya tarian kata-kata. Jangan sampai yang bergema hanya denting pernyataan. Datang, berbicara, lalu pulang ketika lampu kamera dimatikan.
Publik hari ini tidak sedang menunggu siapa yang paling lantang. Publik sedang menunggu siapa yang paling konsisten.
Saya teringat pada aktivisme generasi terdahulu. Aktivisme yang tidak lahir dari kebutuhan untuk viral, tetapi dari kegelisahan yang benar-benar hidup di dalam dada. Aktivisme yang membuat nama seperti Soe Hok Gie, misalnya, tetap dikenang hingga hari ini.
Bukan karena ia pandai membuat pernyataan. Tetapi karena ia berani membayar harga dari keyakinannya.
Maka kepada para aktivis yang hari ini berdiri paling depan, saya menaruh harapan yang sama. Teruslah menyala. Teruslah mengawal. Teruslah mengkritik. Tetapi lakukan itu secara utuh.
Karena nyala yang paling berharga bukanlah nyala yang sesekali membesar lalu padam. Lebih dari itu, nyala yang terus hidup, menerangi setiap sudut persoalan tanpa memilih-milih arah cahaya.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak pernah terlalu lama mengingat mereka yang paling keras berteriak. Sejarah lebih sering mencatat mereka yang tetap berjalan ketika tepuk tangan telah berhenti terdengar.
Saya tunggu keperkasaannya. Tabik.





