Oleh: Mas’udi, warga Pulau Sapudi
LENSAMADURA.COM – Ada sebuah penyakit yang sudah lama diderita bangsa ini. Penyakit itu tidak tercatat dalam buku kedokteran. Tidak menyebabkan demam. Tidak menyebabkan batuk. Tidak menyebabkan kematian secara mendadak. Namun, perlahan-lahan menggerogoti masa depan.
Penyakit itu bernama stunting. Bukan stunting fisik, melainkan stunting kebijakan.
Indonesia adalah negeri yang unik. Kita selalu berbicara tentang masa depan. Kita selalu berbicara tentang Indonesia Emas. Kita selalu berbicara tentang menjadi negara maju. Namun anehnya, kita hampir tidak pernah mampu menjaga satu arah pembangunan secara konsisten dalam jangka panjang.
Setiap pergantian kekuasaan, prioritas berubah. Setiap pergantian kepemimpinan, fokus berubah. Setiap pergantian pemerintahan, narasi berubah. Seolah-olah bangsa ini baru saja lahir kemarin.
Akibatnya, Indonesia seperti negara yang hidup hanya lima tahun. Lima tahun pertama hidup. Lima tahun berikutnya berganti nyawa. Seolah mati suri, kemudian hidup lagi lima tahun ke depan. Polanya sudah mudah ditebak. Setiap lima tahun sekali, negara ini seperti mengalami reinkarnasi. Begitu terus berulang.
Bukan karena negara ini miskin. Bukan karena rakyatnya malas. Bukan karena tidak memiliki orang-orang cerdas. Melainkan karena terlalu banyak energi bangsa yang habis untuk memulai ulang.
Kita selalu membangun fondasi, tetapi jarang menyelesaikan bangunan. Kita selalu merancang peta, tetapi jarang berjalan cukup jauh. Belum sempat menempuh perjalanan panjang, lima tahun kemudian peta itu dirombak lagi. Kita selalu meluncurkan program baru, tetapi tidak cukup sabar untuk memetik hasil dari program lama.
Yang lebih ironis, hampir setiap pemimpin datang dengan semangat yang sama. Mereka ingin meninggalkan warisan. Mereka ingin dikenang sejarah. Mereka ingin memiliki program yang identik dengan namanya.
Akhirnya, negara berubah menjadi panggung pergantian merek, bukan kesinambungan peradaban. Yang berubah bukan hanya pemimpinnya, tetapi juga slogan, prioritas, pendekatan, bahkan kadang arah berpikirnya.
Sementara itu, rakyat terus diminta bersabar. Terus diminta percaya. Terus diminta menunggu. Padahal yang ditunggu bukan hasil pembangunan, melainkan stabilitas arah pembangunan itu sendiri.
Sebab, bagaimana mungkin sebuah bangsa berlari menuju masa depan jika setiap beberapa tahun sekali garis finisnya dipindahkan?
Kita sering menyalahkan sumber daya manusia. Kita sering menyalahkan pendidikan. Kita sering menyalahkan mental masyarakat. Namun, jarang bertanya: bagaimana masyarakat dapat memiliki visi jangka panjang jika negara sendiri kesulitan mempertahankan visi jangka panjang?
Bagaimana generasi muda dapat menyiapkan diri untuk masa depan jika prioritas negara berubah lebih cepat daripada proses pembentukan generasi itu sendiri?
Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan potensi. Yang kita kekurangan adalah keberanian untuk menjaga satu arah secara konsisten.
Kita terlalu sibuk mendiskusikan siapa yang memimpin, tetapi terlalu sedikit mendiskusikan ke mana bangsa ini akan dibawa. Akibatnya, setiap pergantian pemimpin terasa seperti pergantian tujuan.
Padahal yang seharusnya berganti hanyalah pengemudinya. Tujuannya tidak.
Mungkin inilah paradoks terbesar bangsa ini. Negeri yang besar. Rakyat yang banyak. Sumber daya yang melimpah. Namun masih terjebak dalam siklus lima tahunan.
Siklus yang membuat kita selalu merasa sedang memulai, tetapi tidak pernah benar-benar sampai.
Dan selama penyakit itu belum disembuhkan, Indonesia akan terus menjadi negeri yang hidup lima tahun sekali.
Hidup. Berjalan. Berjanji. Lalu berhenti. Kemudian memulai lagi dari awal.
Seolah-olah sejarah tidak pernah bergerak maju. Seolah-olah setiap generasi harus membangun ulang rumah yang sama dari fondasi yang sama.
Terakhir, kita bukan kekurangan mimpi besar. Kita hanya terlalu sering mengganti mimpi sebelum sempat mewujudkannya. (*)





