Refleksi Sumpah Pemuda: Merawat Nasionalisme Kaum Muda Indonesia di Era Society 5.0

oleh Akhmad Dadang Kusnindar*

Sumpah Pemuda merupakan sebuah peristiwa yang sangat penting dalam perjalanan Indonesia menjadi sebuah bangsa (nation). Peristiwa penting yang digerakkan oleh anak-anak muda Indonesia yang terjadi pada 93 tahun silam (mendekati 1 Abad). Bahkan salah seorang sejarawan senior (Taufik Abdullah) tak segan-segan meletakkannya sebagai salah satu dari “Tiga Peristiwa Satu Napas” yakni Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Proklamasi 17 Agustus 1945, dan Peristiwa 10 November 1945 (Abdullah, 1974).

Meletakkan peristiwa Sumpah Pemuda sebagai salah satu dari elemen penting dari napas Indonesia bukan tanpa alasan. Sebab, pada momen inilah para pemuda-pemudi Indonesia menanggal sekat-sekat suku, agama dan ras, dan kemudian berikrar untuk sebuah persatuan dengan menyatakan diri sebagai bagian dari komunitas yang bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia; berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi awal lahirnya identitas kebangsaan kita yang nantinya mengerucut menjadi nasionalisme Indonesia sendiri. Satu hal yang perlu kita garis bawahi dari peristiwa ini adalah bahwa generasi muda sangat menentukan gerak sejarah dari sebuah bangsa.

Tak salah rasanya bila Bung Karno meneriakkan “beri aku sepuluh pemuda, maka akan ku guncang dunia”, karena memang lokomotif dari sebuah perubahan itu sendiri berada di tangan generasi muda. Termasuk nasib bangsa ini. Sejarah Indonesia telah mencatatnya. Hal itulah yang harus benar-benar menjadi kesadaran sejarah bagi generasi muda Indonesia hari ini.

Peringatan hari Sumpah Pemuda saat ini terasa berbeda, dimana masih di tengah kejadian luar biasa bernama Pandemi Covid-19 dan terjadi skenario era Society (masyarakat) 5.0. Pemuda Indonesia dituntut mencari jalan keluar dari keperihatinan bersama karena wabah Pandemi Covid-19 dan menyusun strategi dalam menghadapi era Society 5.0. Oleh sebab itu semangat menggelorakan kembali sumpah pemuda yang di miliki sejarah Bangsa Indonesia ini, harus terus didengungkan untuk mengokohkan nasionalisme Ke-Indonesia-an. Pemuda Indonesia yang merupakan pilar modal manusia (human resource), posisinya menjadi sangat strategis dan sekaligus tumpuan harapan Bangsa untuk dapat survive di masa depan. Pesan yang harus abadi dari nilai patriotisme sumpah pemuda oleh para pemuda adalah semangat nasionalisme. Di tengah dinamika dunia yang terus mengglobal pemuda Indonesia dihadapkan pada neo kolonialisme dan neo imperialisme (Neokolim). Menyebarnya Pandemi global Covid-19, menjadi bukti nyata baru bahwa hakikat imperialisme global adalah “perang” terhadap bentuk apapun dari pengaruh global. Nasionalisme pemuda Indonesia kembali di uji, apakah masih kokoh dan nyata, ataukah sebaliknya yakni mengalami kekaburan?

Baca Juga :  'Orang Dalam' dan Bisnis Haram

Tren Istilah generasi kaum muda Millenial sangat populer pada kurun waktu dua tahun terakhir ini. Sebelum mengupas lebih jauh tantangan yang menyelimutinya, perlu dilihat katagori seperti apa sesungguhnya yang dimaksud kaum muda millenial. Dilihat dari sisi kelompok umur, yang dimaksud generasi kaum muda millenial adalah individu yang mempunyai rentang waktu lahir pada 1982-1996. Dirilis dari The New York Time, Pew Research Center (www.republika.co.id). Generasi kaum muda millenial merupakan generasi yang lahir dimasa mulai hadirnya teknologi dan komputerisasi. Bahkan jika ditilik dari sisi ekonomi kependudukan, pakar ekonomi kependudukan Universitas Indonesia, Professor Sri Moertiningsih (2010) mengatakan bahwa ketika usia kelompok umur individu yang lahir tahun 1996 masih menjadi kelompok “age dependen rasio” (usia penduduk non-produktif). Sehingga bisa kita maknai pada individu yang usianya sekitar 15 tahun hingga 22 tahun juga merupakan fresh generation untuk kelompok millenial.

Generasi kaum muda millenial mempunyai tantangan yang berat di masa depan, meski kehidupannya diselimuti dengan kecanggihan teknologi. Generasi kaum muda millenial ditandai dengan gaya hidup cyber. Kehidupan sehari-hari diselimuti dengan habit berselancar di dunia maya. Mereka banyak menghabiskan waktu untuk beraktivitas daring (dalam jaringan), dengan berselancar di media sosial seperti streaming, dan relasi media sosial lainnya. Bahkan salah satu lembaga riset ternama yakni The Neilsen Global Survei (2020), juga melakukan pengamatan kepada generasi kaum muda millenial tentang habit baru belanja generasi kaum muda millenial dan menyimpulkan bahwa generasi ini lebih cenderung menggunakan media internet untuk belanja.

Baca Juga :  Sekapur Sirih Untuk Presiden

Kemudian dari sisi tradisi, budaya dan karakter bangsa Indonesia, sesungguhnya generasi kaum muda millenial merupakan generasi yang dipundaknya ada tanggung jawab melestarikan nilai identitas bangsa yang merupakan identitas nasionalisme. Habit menggunakan daring dalam membangun relasi network (silaturahmi-red), merupakan kondisi paradoks dengan model relasi kekeluargaan dan kegotongroyongan. Identitas ke-Indonesiaan-an adalah kegotong royongan dan hormat menghormati. Pada perspektif adat istiadat Indonesia, interaksi langsung dalam menghormati kepada sosok yang lebih tua, lebih alim (lebih berilmu), maka nilai keseharian yang dibangun dalam berelasi yakni berjabat tangan dan bahkan disertai mencium tangan sosok yang lebih tua atau berilmu ini mulai pudar dengan kondisi penduduk millenial yang sangat akrab berinteraksi sosial dengan daring. Belum lagi jiwa kegotong royongan, tenggang rasa, dan rasa empati sebagai fenomena afektif terhadap sesama Bangsa Indonesia.

Ini semua tantangan bagi generasi kaum muda millenial, mereka harus segera dibekali nilai-nilai tradisi dan karakter bangsa seiring dengan semangat patriotisme yang dipelopori oleh para pemuda pencetus kebangkitan nasional. Semangat ini mesti diilhami dari semangat kebangkitan nasional. Dimana kala itu sebagian besar pemuda Indonesia dalam keadaan kurang beruntung secara ekonomi, namun etos mereka ingin memperbaiki nasib dan ingin memiliki identitas berwarga negara serta mempunyai kemerdekaan dalam suatu negara yang bernama Indonesia.

Oleh karena itu dengan semangat yang sama, pada upaya melawan dampak Covid-19, pemuda Indonesia harus menghadapi ancaman terhadap hilangnya mata pencaharian mereka. Langkah-langkah harus diambil oleh pemuda Indonesia untuk mengurangi dampak keuangan terhadap rumah tangga bersifat komprehensif dan cukup untuk menjembatani kesenjangan yang diakibatkan oleh hilangnya pendapatan. Upaya kreativitas yang inovatif harus dilakukan oleh pemuda Indonesia untuk menerobos pemulihan ekonomi mereka.

Baca Juga :  Eksistensi PMII Masa Kini, Patut Dikritik Atau Dibenahi

Kaum muda Indonesia tentu diharapkan mengambil suatu kunci gerakan yang berbeda dengan pemuda lain di dunia. Keunggulan pemuda Indonesia mempunyai jumlah yang melebihi jumlah pemuda yang ada di negara-negara lain di dunia. Pemuda Indonesia diharapkan mampu membuktikan effort dan etos di tengah Pandemi ini, dengan tetap sebagai kontributor utama dari “Bonus Demografi Indonesia”. Sehingga pemulihan inklusif dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG’s) selama periode aksi dalam melawan Pandemi Covid-19 ini terus terjaga.

Pemuda Indonesia diharapkan dunia untuk terus berpacu dalam merespons pemulihan ekonomi dan kesejahteraan dalam melindungi hak-hak asasi manusia Indonesia bagi keberlangsungan kemajuan semua anak muda Indonesia. Dan, sekaranglah saat yang paling tepat bagi pemuda Indonesia untuk melakukan perjuangan dalam melindungi Negara Republik Indonesia tercinta ini.

*Akhmad Dadang Kusnindar, Alumni GMNI, Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPC PA GMNI Kabupaten Pamekasan 2021-2025

Dukungan Referensi :

1. Abdullah, Taufik. (1974). Pemuda Dan Perubahan Sosial. Jakarta: LP3S.

2. Adioetomo, Sri Moertiningsih dkk. 2010. Dasar-Dasar Demografi Edisi 2.pdf. diakses pada tanggal 22-10-2021.

3. https://www. Academia .edu/7331384/Trisakti_Globalisasi_and_

Pembangunan_Karakter, diakses pada tanggal 22-10-2021.

4. https://www.gramedia.com/literasi/sumpah-pemuda/, diakses pada tanggal 22-10-2021.

5. https://www.nielsen.com/id/id/press-releases/2020/konsumen-digital-menunjukkan-pertumbuhan-tren-positif/, diakses pada tanggal 25-10-2021.

6. Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan, edisi 1.5.1 oleh Ebta Setiawan, Tahun 2010-2013.pdf. diakses pada tanggal 23-10-2021.

7. PPT_Masyarakat5.0-Pembangunan-yang-Berfokus-pada-Manusia_Turro.pdf. diakses pada tanggal 22-10-2021.

8. The New York Time, Pew Research Center (www.republika.co.id). diakses pada tanggal 22-10-2021.

Dapatkan Berita Terupdate dari Lensa Madura di: