Ratusan Karya Santri IBS PKMKK jadi Penanda Transformasi Literasi Pesantren

PAMEKASAN, LensaMadura.com – Produktivitas literasi santri di IBS PKMKK Pamekasan dinilai menjadi penanda perubahan kultur pendidikan pesantren, dari sekadar ruang transmisi ilmu menuju ruang produksi pengetahuan.

Penilaian itu disampaikan dosen Pascasarjana UIN Madura, Heni Listiana, menyusul peluncuran sembilan karya terbaru santri IBS PKMKK pada awal Mei 2026.

“Ini bukan sekadar aktivitas seremonial literasi, tetapi menunjukkan lahirnya kesadaran baru bahwa santri tidak hanya menjadi pembaca teks, melainkan juga pencipta teks,” ujarnya, Jumat, 8 Mei 2026.

Menurut dia, salah satu karya yang cukup menarik perhatian adalah novel berbahasa Inggris berjudul Moonstruck With You karya santri bernama pena Sang Kinasih atau Naurah Resa Alana.

Selain itu, delapan karya lain yang ditulis dalam bahasa Indonesia juga dinilai menunjukkan keberagaman tema dan imajinasi generasi muda pesantren.

Beberapa judul yang dirilis antara lain Masa Depan, Siapa yang Mencuri Bayanganku, Gema Tanpa Suara, hingga A Whistle Blower.

Heni menjelaskan, capaian tersebut tidak lahir secara instan, melainkan melalui budaya literasi yang dibangun secara sistematis di lingkungan pesantren.

Selama sekitar empat tahun terakhir, IBS PKMKK tercatat telah menerbitkan 206 karya santri ber-ISBN melalui penerbit resmi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 26 karya ditulis menggunakan bahasa Inggris.

Menurutnya, angka tersebut menjadi indikator adanya transformasi budaya pendidikan di lingkungan pesantren.

“Pesantren tidak lagi hanya diposisikan sebagai ruang reproduksi tradisi, tetapi juga laboratorium kreativitas intelektual,” katanya.

Ia menilai aktivitas menulis juga memiliki dimensi psikologis bagi para santri, terutama dalam proses pencarian identitas diri dan keberanian mengekspresikan gagasan.

Tema-tema yang diangkat para santri disebut merefleksikan dinamika generasi muda saat ini, mulai dari persoalan identitas, kesunyian, keadilan sosial, hingga harapan masa depan.

Heni menambahkan, keberhasilan tersebut tidak lepas dari terciptanya lingkungan pendidikan yang memberi ruang aman bagi santri untuk bereksperimen dan menyampaikan gagasan.

Menurut dia, dukungan institusi dan budaya akademik yang terbuka menjadi faktor penting tumbuhnya kreativitas di lingkungan pesantren.

“Kehadiran karya-karya ini menunjukkan bahwa santri tidak hidup terpisah dari dunia modern, tetapi sedang berdialog dengan realitas sosial melalui tulisan,” ujarnya. (*)