Pesilat Kelas Master Curi Perhatian di Kejuaraan Piala Bergilir IPSI Sumenep

SUMENEP, LensaMadura.com – Kejuaraan Pencak Silat Piala Bergilir IPSI Kabupaten Sumenep III 2026 tidak hanya diikuti pesilat usia dini dan remaja.

Ajang tersebut juga menghadirkan kategori master yang diikuti para pesilat senior, termasuk peserta perempuan yang tetap aktif bertanding di usia matang.

Kategori Tunggal Bebas Kelas Master diikuti empat peserta, terdiri atas dua pesilat putra dan dua pesilat putri.

Kehadiran mereka menjadi salah satu perhatian dalam kejuaraan yang mempertemukan pesilat dari berbagai kelompok usia di Kabupaten Sumenep.

Pada kategori tersebut, Fardiana Aelita berhasil meraih juara pertama setelah menampilkan jurus tunggal di hadapan dewan juri.

“Alhamdulillah bisa meraih juara satu. Persiapan saya lakukan selama satu minggu bersama murid-murid perguruan. Saat muda saya merupakan atlet tanding, dan ketika dewasa sering diundang dalam berbagai pagelaran dindung,” kata Fardiana usai menerima penghargaan, Kamis, 25 Juni 2026.

Menurut dia, pencak silat dapat terus ditekuni hingga usia lanjut selama tetap menjaga semangat berlatih dan disiplin dalam mengembangkan kemampuan.

Ketua Panitia Kejuaraan, Ali Arief, mengatakan partisipasi pesilat kelas master menjadi bukti bahwa pencak silat tidak hanya diminati kalangan muda, tetapi juga tetap digeluti para pesilat senior.

“Kejuaraan ini diikuti peserta mulai dari usia dini hingga kelas master. Untuk kategori master terdapat empat peserta, terdiri dari dua putra dan dua putri. Kami sangat mengapresiasi semangat mereka,” ujarnya.

Ali berharap jumlah peserta kategori master pada penyelenggaraan berikutnya semakin bertambah. Menurut dia, kehadiran pesilat senior dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus melestarikan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa.

Kejuaraan Piala Bergilir IPSI Kabupaten Sumenep III menjadi ajang pembinaan sekaligus silaturahmi antarpesilat. Selain mengejar prestasi, kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkuat kecintaan terhadap pencak silat sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.

Partisipasi pesilat kelas master dalam kejuaraan itu menunjukkan bahwa semangat berlatih dan berprestasi di dunia pencak silat tidak dibatasi usia. (*)