SURABAYA, LensaMadura.com – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai Jawa Timur memiliki modal kuat untuk menjadi pemain utama dalam rantai nilai halal nasional maupun global.
Menurut dia, kekuatan pondok pesantren, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sektor industri, serta konektivitas logistik menjadi faktor pendukung utama.
“Halal bukan lagi sekadar sertifikasi produk. Halal telah berkembang menjadi ekosistem gaya hidup dan industri masa depan,” kata Khofifah saat menjadi pembicara utama dalam Forum Ekonomi Regional Java Halal Ecosystem 2026 di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis, 4 Juni 2026.
Khofifah mengatakan produk halal kini telah menjadi standar baru dalam perdagangan internasional karena identik dengan kualitas, keamanan, higienitas, keterlacakan produk, dan keberlanjutan.
Mengacu pada laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia menempati peringkat pertama dunia pada sektor fesyen muslim, peringkat ketiga pada sektor makanan halal serta media dan rekreasi, dan peringkat keempat pada sektor farmasi serta kosmetik halal.
Menurut Khofifah, Jawa Timur tidak boleh hanya menjadi pasar produk halal. “Jawa Timur memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama halal dunia, mulai dari kekuatan pesantren, UMKM, industri, hingga konektivitas logistik yang menjangkau pasar nasional dan global,” ujarnya.
Ia menjelaskan posisi strategis Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara didukung Pelabuhan Tanjung Perak yang melayani 24 dari 41 rute tol laut nasional. Infrastruktur tersebut diperkuat oleh 12 ruas jalan tol, dua Kawasan Ekonomi Khusus, 13 kawasan industri, satu kawasan industri halal, 37 pelabuhan, dan tujuh bandara.
Pada triwulan I 2026, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen.
Dalam pengembangan ekonomi syariah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengembangkan Halal Industrial Park Sidoarjo (HIPS) dan memberdayakan 7.425 pondok pesantren. Dari jumlah itu, sebanyak 1.420 pesantren menjalankan program One Pesantren One Product (OPOP), sedangkan 3.966 pesantren telah terdigitalisasi.
Sepanjang 2025, delapan program inkubasi usaha syariah menjangkau 2.492 pelaku usaha. Pemerintah juga memfasilitasi sertifikasi halal bagi 552.943 usaha dengan total 1,41 juta produk bersertifikat halal.
Jumlah usaha halal di Jawa Timur meningkat 42,59 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun nilai ekspor produk halal dari provinsi tersebut mencapai US$ 3,22 miliar.
Khofifah mengatakan capaian itu merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak dan menjadi modal bagi Jawa Timur untuk memperkuat daya saing sekaligus mendukung target Indonesia sebagai pusat ekonomi halal dunia. (*)



