Oleh: Nor Hasanah, mahasiswa STITA Sumenep
Kita hidup di era di mana kepribadian kita tidak lagi dibentuk oleh petuah orang tua, melainkan oleh FYP (For You Page) TikTok dan feed Instagram. Algoritma media sosial kini bekerja layaknya “asisten gaib” yang tahu segalanya tentang kita—apa yang kita sukai, apa yang membuat kita marah, hingga kapan kita merasa kesepian.
Fenomena inilah yang membuat kita ketergantungan akut pada gawai yang mana hal ini bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan sudah berubah menjadi krisis eksistensial yang terus mengikis sisi kemanusiaan kita sedikit demi sedikit.
Secara sains, algoritma dirancang berbasis neurosains untuk memicu hormon dopamin secara konstan. Infinite scrolling menciptakan candu digital yang memenjarakan perhatian manusia dalam ruang gema (echo chamber).
Dampaknya nyata: polarisasi sosial meningkat, empati menurun, dan kesehatan mental generasi muda merosot tajam. Sains menciptakan teknologi ini, namun tanpa kendali, sains juga yang mengeksploitasi kerentanan psikologis manusia demi keuntungan kapitalis.
Di sinilah peran Islam hadir untuk memberikan kompas moral yang sangat penting. Dalam konsep Islam, manusia diciptakan sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi, yang dibekali akal (al-Aql) untuk membedakan yang maslahat dan mudarat, baik dan buruk.
Sejatinya ketika manusia sudah tak lagi mampu mengontrol jemarinya dan membiarkan hidupnya disetir oleh algoritma, maka ia sedang mengalami degradasi spiritual.
Yang mana di dalam Islam sangat menekankan pentingnya tabayyun (konfirmasi informasi) dan menjaga kesehatan jiwa (hifzh an-nafs). Membiarkan diri hanyut dalam arus hoaks dan candu digital adalah bentuk pengabaian terhadap amanah akal tersebut.
Pada akhirnya, ini adalah panggilan kemanusiaan kita. Teknologi harus diletakkan kembali sebagai alat (tool), bukan lagi tuan (master). Kita butuh kesadaran digital yang berbasis pada nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Menjinakkan algoritma berarti merebut kembali kedaulatan waktu kita, menghidupkan kembali empati yang nyata di dunia real, dan menggunakan sains untuk kemaslahatan, bukan perbudakan modern. Sebelum terlambat, mari kita matikan layar sejenak, dan hidupkan kembali kemanusiaan kita. (*)






