JAKARTA, LensaMadura.com – Tokoh Madura sekaligus Presiden Madura United, Achsanul Qosasi, memberikan apresiasi tinggi terhadap film FOUFO usai menghadiri gala premiere di Epicentrum, Jakarta, Sabtu, 4 Juli 2026.
Menurutnya, film garapan sutradara Bayu Skak itu bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi tonggak baru bagi representasi budaya Madura di perfilman nasional.
Achsanul menilai FOUFO berhasil mengangkat identitas Madura secara utuh dengan menempatkan bahasa dan budaya lokal sebagai bagian utama cerita. Sekitar 70 persen dialog dalam film tersebut menggunakan bahasa Madura, sementara mayoritas pemainnya merupakan talenta asli Madura yang terpilih melalui proses open casting.
“Malam ini layar bercerita tentang kita. FOUFO menaruh bahasa Madura di jantung film nasional, bukan sekadar tempelan atau bumbu, melainkan menjadi denyut utama cerita. Untuk pertama kalinya, anak-anak Madura mendengar bahasa ibunya hadir di layar bioskop dengan penuh kebanggaan,” ujar Achsanul.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya yang dinilai memberikan dukungan sejak awal proses produksi film tersebut.
“Terima kasih kepada Pak Menteri Teuku Riefky Harsya atas dukungan yang nyata. Ini membuktikan negara hadir ketika daerah berkarya. Dan ini baru awal. Dari satu film akan lahir film-film lain, dari satu keberanian akan tumbuh keberanian berikutnya. FOUFO telah membuka pintu, dan tugas kita bersama menjaga pintu itu tetap terbuka,” katanya.
Menurut Achsanul, kekuatan utama FOUFO terletak pada kemampuannya memadukan unsur hiburan dengan pesan-pesan kehidupan, seperti bakti kepada orang tua, perjuangan hidup, dan nilai-nilai keimanan, dalam balutan komedi yang ringan.
“FOUFO adalah komedi yang dibumbui substansi. Suatu hari nanti, saya berharap lahir karya yang sebaliknya, substansi yang dibumbui komedi. Karena tertawa dan berpikir tidak pernah bertentangan. Keduanya bisa berjalan beriringan dalam satu cerita,” ujarnya.
Achsanul juga berharap perfilman Indonesia semakin banyak menghadirkan kisah-kisah tentang Madura dari berbagai perspektif.
“Madura bukan hanya besi tua dan sate. Ada pengusaha Madura, ada kiai Madura, ada pahlawan-pahlawan dari Madura yang layak diceritakan. Semua wajah itu menunggu gilirannya untuk hadir di layar. FOUFO adalah pembuka jalan, bukan titik akhir,” tegasnya.
Sebagai Presiden Madura United, Achsanul mengaku melihat semangat yang sama antara dunia sepak bola dan perfilman, yakni kerja keras, loyalitas, dan pantang menyerah dalam menunjukkan potensi Madura kepada Indonesia.
“Di atas segalanya, semoga film ini membawa Madura naik kelas, dikenal bukan karena stereotipnya, tetapi karena martabatnya. Dari Madura, untuk Indonesia,” pungkasnya.
Film FOUFO diproduksi Skak Studios bersama SinemArt dan mengisahkan Muslim, seorang pengepul rongsok yang hidupnya berubah setelah menemukan alien kecil bernama Foufo.
Film ini dibintangi Tretan Muslim, Bayu Skak, Benidictus Siregar, Habib Ja’far, Fuad Sasmita, Mieke Shahir, Siti Kamariyah, Inayah Wahid, serta Ade Kurniawan sebagai pengisi suara karakter Foufo. FOUFO dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026. (*)


