Berkenalan dengan Kasur Pasir, Tradisi Unik Masyarakat Sumenep

SUMENEP, Lensa Madura – Indonesia memiliki beraneka ragam suku dan budaya, tak heran bila Indonesia menyimpan banyak sejarah dan tradisi unik dari berbagai daerah. Salah satu tradisi unik yang ada di ujung Pulau Garam Madura, yaitu tidur di atas kasur pasir.

Tradisi tidur di atas kasur pasir ini berada di 3 (tiga) Desa, yaitu  Legung Timur, Legung Barat dan Dapenda Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Mayoritas masyarakat Sumenep Madura Jawa Timur tidur di atas ranjang dengan kasur empuk. Namun, bagi warga di 3 (tiga) Desa di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur ini lebih memilih tidur di atas kasur pasir.

Tradisi unik yang dilakukan warga Desa Dapenda, Desa Legung Timur, dan Desa Legung Barat ini sudah menjadi tradisi turun temurun bagi warga sekitar dan merupakan kewajiban setiap rumah memiliki kasur pasir dalam rumahnya. Sehingga ketiga desa ini dikenal dengan kampung kasur pasir.

Baca Juga :  RSUD Sumenep Miliki Poli Nyeri, dr Erliyati: Pertama dan Satu-satunya di Madura

Tidak hanya di dalam rumah saja, masyarakat setempat menaruh pasirnya di halaman rumah dan tempat-tempat tertentu juga ada pasir yang digunakan untuk bersantai bersama keluarga dan tetangga.

Kebiasaan unik yang dilakukan ketiga warga Desa itu sudah berlangsung selama ratusan tahun secara turun-temurun. Bahkan dulu sebelum adanya aturan melahirkan harus ke Bidan atau Dokter kebanyakan anak didilahirkan di atas pasir juga hanya dibantu dukun. Akan tetapi dunia kesehatan semakin canggih sekitar awal tahun 2006 sampai sekarang 2022 banyak dukun yang takut serta menyuruh para ibu hamil agar melahirkan ke Bidan.

Jadi, sedari kecil mereka memang sudah akrab dengan kasur berpasir. Mereka lahir, bermain, tumbuh, berkembang, dan menjadi dewasa di atas pasir sehingga tak jarang ada yang menyebutnya Manusia Pasir.

Pasir yang digunakan untuk tempat tidur ini merupakan pasir pilihan yang didapatkan warga dari bibir pantai desa setempat. Pasir pilihan itu ditempatkan di sudut kamar rumah maupun di ruang istirahat, serta di dapur.

Baca Juga :  Peduli Akan Kesulitan Masyarakat, Babinsa Bantu Warga Pindah Rumah

Butiran pasir itu tidak lengket di kulit atau tubuh meski kulit dalam keadaan basah. Butiran pasir tersebut memiliki kristal pasir yang sangat halus, bersih mengilap, dan memiliki warna putih gading. Sebelum digunakan pasir akan diayak untuk memastikan tidak ada batu atau benda berbahaya lain di dalamnya. Pasir lalu dijemur agar tak basah atau lembab di kulit.

Manfaat Tidur di Kasur Pasir

Warga tiga desa yang mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai nelayan tersebut menganggap pasir memberi manfaat besar bagi kesehatan tubuh. Mereka juga menganggap tidur di atas pasir bisa lebih nyenyak serta badan teras segar untuk beraktivitas.

Selain itu, menurut warga setempat tidur di atas pasir terhindar dari perbuatan jahat, seperti guna-guna, santet, dan sejenisnya.

Baca Juga :  Kurir Yatim Gelar Santunan di Rubaru Sumenep

Salah satu tokoh masyarakat setempat H. Rahmat Sucipno menyampaikan, bahwa pertama kali asal muasal kasur pasir terletak di desa Legung Timur.

“Titik yang menjadi perhatian untuk dijadikan obyek wisata kasur pasir adalah kampung Jamban dan Tarebungan Dusun Pesisir Timur Desa Legung Timur,” kata H. Rahmat Sucipno merekomendasikan.

Namun saat ini, kata dia. pasir yang diambil dari wilayah dekat Pantai Lombang sudah mulai dikotori limbah tambak, mulai tidak enak digunakan dan membuat gatal-gatal ketika terkena kulit.

“Namun hal tersebut tidak mengurangi kondisi pasir pilihan yang diambil oleh masyarakat di tiga desa untuk dijadikan kasur pasir oleh masyarakat sekitar,” katanya.

Ditanya terkait tindaklanjut wisata kasur pasir, dirinya masih belum mendapatkan info terkait kelanjutan obyek wisata ini.

“Padahal ini harus menjadi atensi khusus pihak yang berwenang sebagai upaya meningkatkan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (Pur)

Dapatkan Berita Terupdate dari Lensa Madura di: