Sekolah Rakyat dan Harapan Nyata Anak Pinggiran

Oleh: Suryadi, SP., Pendamping Sosial PKH Kemensos RI
LENSAMADURA.COM – Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Sosial meluncurkan strategi progresif dalam memutus rantai kemiskinan. Bukan melalui bantuan karitatif biasa, melainkan melalui instrumen paling transformative, yakni Sekolah Rakyat (SR). Program ini bukan sekadar institusi pendidikan biasa, melainkan sekolah terpadu dan terintegrasi yang dirancang khusus bagi masyarakat miskin serta anak-anak terlantar agar mampu mengenyam pendidikan berkualitas tinggi dengan standar nasional.
Gagasan Sekolah Rakyat sontak memicu riak perbincangan. Banyak alis terangkat di kalangan pendidik formal dan kritikus. Di tengah fenomena grouping sekolah negeri karena minimnya siswa, pertanyaan “mengapa harus membangun yang baru?” sering mengemuka. Skeptisisme itu wajar, namun pemerintah memilih menjawabnya dengan komitmen yang tak tergoyahkan.
Namun, Presiden Prabowo tetap teguh pada visinya. Hingga awal tahun 2026, komitmen tersebut dibuktikan dengan berdirinya 166 titik Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia. Pemerintah menargetkan pembangunan hingga 500 titik pada tahun mendatang. Provinsi Jawa Timur menjadi wilayah dengan konsentrasi terbanyak, yakni mencapai 70 titik SR, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menyisir wilayah kantong kemiskinan.
Berbeda dengan sekolah konvensional, SR mengusung metode pendidikan yang terintegrasi untuk mengangkat derajat sosial peserta didiknya. Fokus utama SR meliputi, Pembentukan Karakter: Menanamkan nilai-nilai moral dan etika yang kuat. Keterampilan Vokasi: Pelatihan skill spesifik yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa agar siap kerja. Kemandirian: Mendorong anak-anak untuk menjadi pribadi yang berdaya saing dan percaya diri.
Tujuannya jelas: menciptakan generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keterampilan teknis (hard skill) dan mentalitas yang tangguh.
Tujuannya melampaui ruang kelas: menciptakan generasi penerus yang berdaya, terampil, dan berkarakter, siap menghadapi tantangan masa depan.
Kualitas Sekolah Rakyat bukan sekadar klaim utopis di atas kertas. Dalam peresmian terbaru yang dihadiri langsung oleh Presiden, para siswa SR menunjukkan bakat yang memukau. Beberapa siswa menunjukkan kemampuan komunikasi dalam empat bahasa asing, sementara yang lain memperagakan ketangkasan baris-berbaris dengan tingktat kedisiplinan yang setara dengan sekolah asrama semi-militer.
Pemerintah melalui Kementerian Sosial memastikan bahwa komitmen ini akan terus berlanjut hingga setiap anak miskin di pelosok negeri mendapatkan hak pendidikan yang layak. Sekolah Rakyat kini menjadi simbol harapan baru—sebuah jembatan bagi anak-anak pinggiran untuk melompat melampaui keterbatasan ekonomi dan meraih masa depan yang lebih cerah. (*)



