Rifan Khoridi Bahas Kontes Dangdut Televisi dan Kasta dalam Seni Pertunjukan
SUMENEP, LensaMadura.com – Musikus sekaligus produser musik, Rifan Khoridi, mengkritik keras konsep pertunjukan dalam kontes dangdut televisi yang menurutnya mereproduksi “kasta” di ruang seni.
Founder grup musik La Ngetnik itu menilai model panggung prosenium dengan sistem leveling justru menyingkirkan esensi seni pertunjukan sebagai ruang pengalaman bersama.
“Dalam penyambutan pemenang kompetisi dangdut itu terlihat jelas ada kasta. Penonton di front-stage hanya menjadi hamba hiburan, tidak lebih. Sementara yang bisa naik ke atas panggung adalah mereka yang punya koneksi dan kuasa,” kata Rifan di Sumenep, Jumat, 2 Januari 2026.
Menurut Rifan, seni pertunjukan sejatinya bukan hanya tontonan, tapi ruang untuk mengalami. Kritikus musik itu berpandangan, penonton seharusnya terlibat secara penuh; bercengkrama dengan karya, menyelami syair, merasakan tetabuhan, hingga menikmati kualitas sistem tata suara secara utuh.
Rifan lantas merujuk pada mimetic theory, yang menempatkan penampil sebagai subjek yang memengaruhi kesadaran psikologis penonton secara langsung.
“Dalam teater, penonton adalah bagian penting dari pertunjukan. Ia bukan dekorasi. Ia adalah panggung itu sendiri, bahkan seniman itu sendiri. Kualitas penonton menentukan kualitas pertunjukan,” ujar pencipta lagu Barqun itu.
Pandangan itu pula yang membuat Rifan mengaku masih terus bergulat dengan dunia teater. Ia menegaskan posisinya di luar kontes dangdut televisi yang kerap menempatkan seni dalam logika kompetisi dan pasar.
“Beberapa orang bertanya, saya di bagian mana? Sebagai musisi? Saya sama sekali bukan bagiannya,” kata dia.
Rifan menyebut dirinya menganut kesadaran independen dan objektif sebagai seniman, bukan hanya komunal atau kolektif yang menurutnya jamak terjadi dalam industri hiburan arus utama. Baginya, kontes dangdut televisi lebih tepat dibaca sebagai gejala pasar ketimbang ruang seni.
“Saya membaca pasar itu, tidak lebih. Untuk mengamati setinggi apa selera seni masyarakat kita hari ini,” ucapnya. Ia menilai seni kerap direduksi menjadi sekadar nilai subjektif yang bisa “dicincang” dan dibumbui kepentingan kapitalistik.
Kritik Rifan menambah daftar suara seniman yang mempertanyakan arah industri hiburan populer, terutama ketika seni diposisikan semata sebagai komoditas, bukan sebagai pengalaman estetik dan kesadaran bersama. (*)



