BeritaDiscover

Penolakan Terhadap Akis Jasuli sebagai Ketua DPD Kian Masif, Kader hingga Tokoh NasDem Sumenep Angkat Bicara

SUMENEP, LensaMadura.com – Setelah aksi protes, polemik penunjukan Akis Jasuli sebagai Ketua DPD Partai NasDem Sumenep rupanya belum mereda. Gelombang penolakan datang bertubi-tubi dari kalangan kader, pengurus, bahkan tokoh senior pembesar partai di daerah pun turut bersuara.

Salah satu tokoh pembesar Partai NasDem Sumenep, yang enggan disebutkan namanya, menyebut mayoritas pengurus menyayangkan keputusan DPP NasDem menunjuk Akis Jasuli sebagai ketua. Menurutnya, penetapan itu tidak berdasarkan prestasi, tetapi hasil kompromi politik yang mengabaikan rekam jejak kegagalan.

“Kami butuh pemimpin, bukan pengulang sejarah,” kata tokoh pembesar NasDem Sumenep itu, Selasa, 10 Juni 2025.

Sementara, pengurus DPC NasDem Kecamatan Pragaan, Anasrullah, mengaku kecewa terhadap keputusan DPP yang menunjuk Akis sebagai Ketua DPD NasDem Sumenep. Dia menilai, keputusan tersebut dinggap memberangus citra dan ideologi sebuah partai.

“Penunjukan ini memperlihatkan partai jadi tempat parkir ambisi pribadi Akis. Padahal NasDem kendaraan kolektif menuju perubahan,” kata Anas, sapaan akrabnya.

Anas juga menyebut rekam jejak Akis dinilai gagal saat menjadi sekretaris partai. Bahkan, kata dia, tak mampu mengonsolidasikan NasDem di Pemilu 2019 maupun 2024.

“Selama dua periode di DPRD, kontribusinya minim. Konflik internal, terutama soal transparansi dana kampanye, turut memperburuk citranya,” tegasnya.

Sebagai sekretaris DPD, sambung Anas, Akis dianggap gagal menghidupkan partai. “Kaderisasi lemah, program formalitas, dan soliditas internal memburuk,” tambahnya.

Tak berhenti di situ, Komandan Garda NasDem Sumenep, Moh Hosen, mengaku heran kenapa DPP bisa menunjuk Akis jadi Ketua DPD. Padahal, kata dia, Akis tidak pernah aktif di kepengurusan partai.

“Saya sudah 11 tahun tidak pernah ketemu dan dihubungi Akis, meski dia pernah jadi sekretaris DPD,” kata Moh Hosen.

Di tengah stagnasi itu, DPP justru mengangkat Akis Jasuli menjadi ketua. Keputusan ini dianggap mencederai semangat perubahan dari akar rumput.

“Jika yang gagal justru naik pangkat, bagaimana nasib kader muda yang diam-diam bekerja membangun partai?” tanya Ramdan Yanuaris Salam, pengurus DPD NasDem Sumenep.

Menurut Ramdan, Akis memang bergelar akademik dan sedang menempuh doktoral. Namun, kader menilai gelar bukan jaminan kepemimpinan efektif.

“Buku Akis soal Laut Cina Selatan tidak menyelesaikan masalah struktural di Talango atau Manding,” sindir seorang kader muda itu.

“Kami butuh pemimpin yang tahu medan lokal, bukan hanya pintar mengutip teori geopolitik,” lanjutnya.

Oleh karena itu, sejumlah kader meminta DPP tidak menjadikan Sumenep sebagai laboratorium uji coba kompromi politik.

Meski kecewa, mereka menyatakan tetap hormat pada Koordinator NasDem Madura Raya, H Slamet Junaidi, sebagai pemimpin regional yang saat ini menjabat Bupati Sampang.

Bahkan sebagai penghormatan, mayoritas pengurus siap mundur jika penunjukan Akis dipaksakan. Mereka menyerukan kembalinya partai ke jalur akal sehat.

“Kami ingin partai kembali ke idealisme, bukan logika balas budi,” kata tokoh pendiri NasDem Sumenep yang meminta namanya tidak dipublikasikan.

Menurut mereka, penunjukan ini adalah arah politik partai ke depan: rasional dan meritokratis, atau kompromistis dan penuh beban masa lalu.

“Kami ingin pemimpin yang bekerja, bukan sekadar muncul di baliho,” demikian pernyataam Koalisi Kader Pro Perubahan DPD NasDem Sumenep. (kn/mr)

Related Articles

Back to top button