Nasional

KONI Jawa Timur Dorong Cabor Beladiri Perkuat Pembinaan Atlet Jelang PON 2028

SURABAYA, LensaMadura.com – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur mendorong seluruh cabang olahraga (cabor) beladiri meningkatkan intensitas pembinaan atlet sebagai upaya memastikan keterlibatan penuh pada berbagai single event nasional maupun Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang.

Dorongan ini disampaikan setelah evaluasi penampilan kontingen Jatim pada PON Beladiri 2025 di Kudus. Dari 223 nomor yang dipertandingkan, Jatim hanya mampu mengirim 79 atlet, sehingga beberapa nomor terpaksa dilepas dan berdampak pada peluang perolehan medali.

Meski jumlah atlet terbatas, Jatim tetap mampu membukukan 62 medali, terdiri atas 32 emas, 17 perak, dan 13 perunggu. Namun, menurut Kabid Binpres KONI Jatim, Dudi Harjantoro, capaian itu baru mencerminkan hasil maksimal dengan persiapan yang minim.

“Sudah kami evaluasi, dan hasilnya mereka sudah berjuang maksimal. Namun, ke depan kami harus lebih siap menghadapi BK PON dan PON,” ujar Dudi seusai rapat koordinasi bersama sejumlah pengurus cabor beladiri di Kantor KONI Jatim, Surabaya, Senin, 24 November 2025.

Salah satu fokus pembenahan adalah memperkuat jumlah atlet di setiap cabor. Selain keterbatasan kuota pada PON Beladiri 2025, beberapa cabor beladiri di Jatim juga tercatat minim memiliki atlet yang benar-benar siap bersaing. Sambo dan kempo, misalnya, masing-masing hanya mengirim satu atlet.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius mengingat peta persaingan nasional di cabang beladiri terus berkembang dan semakin merata. Dudi menyebutkan jumlah atlet Jatim untuk PON selanjutnya dapat bertambah, asalkan menunjukkan konsistensi prestasi di berbagai kejuaraan.

“Melalui kejurnas nanti, kami akan melihat apakah sebuah cabor bisa menambah kelas atau tidak dalam menghadapi BK PON dan PON,” katanya.

Untuk itu, KONI Jatim meminta para pelatih segera menyusun program latihan jangka pendek dan menengah, termasuk meningkatkan kondisi fisik atlet yang dinilai masih menjadi salah satu kelemahan utama.

Di sisi lain, sejumlah provinsi kini menunjukkan lonjakan kualitas pada cabang beladiri, sehingga menjadi tantangan tambahan bagi Jatim menjelang PON 2028. Dengan persaingan yang semakin ketat, Jatim dituntut tidak hanya mempertahankan kualitas atlet unggulan, tetapi juga memperluas basis atlet agar mampu bertanding di semua nomor.

Beberapa atlet Jatim masih memiliki peluang tampil pada PON 2028, namun Dudi menegaskan tidak ada jaminan otomatis mereka diberangkatkan. Setiap cabor wajib menerapkan sistem promosi dan degradasi yang dipantau langsung oleh KONI Jatim.

“Semua harus bersaing secara sehat. Hanya atlet terbaik yang akan berangkat,” tegasnya.

KONI Jawa Timur berharap langkah pembenahan ini dapat memperkuat kompetisi internal sekaligus menjaga posisi Jatim sebagai salah satu kekuatan utama cabor beladiri pada PON mendatang. (*)

Related Articles

Back to top button