Feature

Ibu, Teknologi, dan Beban yang Tak Terlihat

Wawancara khusus peringatan Hari Ibu, Senin, 22 Desember 2025 bersama Sukroniyah, anggota Srikandi IKA PMII Sumenep.

LENSAMADURA.COM – Menjadi ibu di era digital bukan perkara mudah. Peran domestik yang sejak lama dilekatkan pada perempuan kini bertambah dengan tuntutan baru. Yaitu kecakapan teknologi, ketahanan mental, dan kesiapsiagaan menghadapi risiko dunia digital.

Di balik kecanggihan teknologi, ada beban yang kerap luput dari perhatian.

Dalam rangka memperingati Hari Ibu yang jatuh pada Senin, 22 Desember 2025, LensaMadura.com mewawancarai Sukroniyah, salah satu anggota Srikandi IKA PMII Sumenep untuk membicarakan tantangan perempuan, khususnya ibu, di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Tantangan Terbesar Menjadi Ibu (perempuan) di Era Digital Saat Ini?

Menurut Sukroniyah, tantangan terbesar menjadi ibu di era digital adalah bagaimana menyeimbangkan peran ganda, karier, rumah tangga, dan pengasuhan, dengan tekanan digital yang semakin kompleks.

“Ada kecemasan digital, perundungan siber, disinformasi, serta kesenjangan keterampilan digital. Semua itu memperberat beban mental dan fisik ibu,” ujar Sukroniyah di Sumenep.

Kondisi ini, kata dia, memaksa ibu untuk terus belajar dan beradaptasi dengan teknologi. Bukan hanya agar tidak tertinggal, tetapi demi melindungi anak dan diri sendiri dari sisi negatif dunia digital, sembari tetap berusaha mengembangkan potensi diri.

Teknologi sebagai Pedang Bermata Dua

Sukroniyah atau biasa dipanggil Rani menilai teknologi tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Bagi ibu, teknologi adalah pedang bermata dua.

“Di satu sisi, teknologi memberi kemudahan operasional yang luar biasa. Tapi di sisi lain, ada beban psikologis yang lebih berat,” katanya.

Tekanan itu bersifat intens, konstan, dan sering tidak terlihat. Ibu dituntut selalu siaga, selalu terhubung, dan selalu responsif. Beban ini kerap disebut sebagai hidden work, pekerjaan yang nyata, tetapi jarang diakui.

Literasi Digital Dimulai dari Keluarga

Rani menekankan pentingnya peran keluarga sebagai ujung tombak literasi digital. Orang tua, terutama ibu, memiliki peran krusial dalam mengenalkan etika digital dan cara memproses informasi yang benar sejak dini.

“Literasi digital membantu orang tua mendampingi proses belajar anak secara lebih efektif,” ujarnya.

Ia menambahkan, literasi dalam keluarga di era digital bukan lagi sekadar kemampuan membaca buku fisik. Literasi kini menjadi fondasi ketahanan keluarga dalam menghadapi gempuran informasi dan teknologi, sekaligus upaya menjaga kesejahteraan mental seluruh anggota keluarga.

Standar Kecantikan dan Distorsi Realitas Media Sosial

Rani juga menyoroti peran media sosial dalam membentuk standar kecantikan. Menurut dia, teknologi telah menciptakan standar yang sering kali tidak realistis dan memicu tekanan sosial, terutama bagi perempuan.

“Standar kecantikan di media sosial menciptakan ekspektasi yang tidak wajar terhadap penampilan fisik nyata,” katanya.

Fenomena ini, lanjut dia, bukan lagi sekadar pencitraan, melainkan sudah menjadi distorsi realitas yang sangat teknis.

Meski demikian, Rani melihat meningkatnya kesadaran akan literasi citra tubuh sebagai bentuk pertahanan diri untuk menjaga kesehatan mental di tengah gempuran citra digital.

Pesan di Hari Ibu 2025

Menutup wawancara, Rani menyampaikan pesan bagi para ibu dan perempuan di Hari Ibu 2025.

“Kita adalah ibu, pilar masa depan. Sudah seharusnya kita menghargai diri kita sendiri sebagaimana kita menghargai orang-orang yang kita cintai,” ujarnya.

Ia berharap era digital justru menjadi ruang untuk saling menguatkan, bukan saling menghakimi.

“Sesama ibu seharusnya saling mendukung, bukan memicu mom shaming. Mari kita bangun ekosistem digital yang suportif bagi sesama perempuan,” pungkasnya. (*)

Back to top button