Feature

Swiss-Belinn Manyar dan Vibrasi Dunia

oleh: M Rifqiyadi, jurnalis LensaMadura.com dan aktor Language Theatre Indonesia

LENSAMADURA.COMHidup selalu tentang ingatan dan kenangan. Rapat kerja di Malang belum benar-benar usai ketika rombongan kami dari Jurnalis Sumenep Independen (JSI), memutuskan pindah ke Surabaya untuk persiapan kegiatan dengan SKK Migas, Minggu, 7 Desember 2025.

Jalanan kota, seperti biasa, punya caranya sendiri memberi kejutan. Di bawah kolong tol, sebuah cekcok kecil dengan satpam sempat menyulut emosi. Sepele, namun cukup membuat ritme perjalanan berubah.

Setelah itu, drama lain menunggu. Mencari hotel. Kami berputar beberapa kali, mengikuti arahan peta digital yang lebih sering menyesatkan daripada menuntun. Waktu semakin larut, tenaga menipis. Dunia seolah bergetar di luar dan dalam: suara kendaraan, hujan tipis, dan sedikit sisa letih raker yang membuntuti.

Hingga akhirnya, Swiss-Belinn Manyar menjadi pelabuhan. Dari luar, hotel itu tampak seperti oasis bagi para pengelana setengah frustrasi. Begitu pintu lobi terbuka, kehangatan menyergap. Bukan hanya dari pendingin ruangan yang diatur pas, tetapi dari sapaan para pegawainya.

Salah satu staf tiba-tiba melontarkan bahasa Madura, sebuah kejutan manis bagi kami yang datang dari ujung timur pulau garam. Dalam sekejap, jarak runtuh. Ada kedekatan yang tidak perlu dicari.

Pelayanan hotel terasa rapi dan tanpa basa-basi. Stafnya bergerak tepat seperti orang yang mengerti bahwa keramahan adalah tugas sekaligus kehormatan. Proses check-in cepat, kamar bersih, dan semua prosedur berjalan tanpa ribut. Setelah perjalanan penuh friksi, suasana itu menjadi semacam penawar.

Malam itu kami beristirahat sambil merapikan ulang ingatan: raker yang melelahkan, cekcok yang tak perlu, jalan yang salah arah, dan akhirnya, tempat singgah yang menghadirkan ketenangan. Hotel Swiss-Belinn Manyar menjadi ruang transisi yang menetralkan vibrasi dunia yang sempat terasa terlalu bising.

Barangkali, dalam perjalanan siapa pun, yang dicari bukan hanya tujuan. Kadang, yang paling berkesan justru adalah tempat singgah yang muncul di antara kekacauan, yang menyambut tanpa banyak tanya, memberi jeda, lalu membiarkan kita kembali menjadi manusia yang utuh. Manusia yang lahir dari dinamika peradaban para leluhur. (*)

Back to top button