Oleh: Abd. Muksidyanto, Jurnalis senior dan pengelola LensaMadura.com
LENSAMADURA.COM – Buya MH Said Abdullah dikenal sebagai sosok yang menempuh perjalanan panjang dalam berbagai bidang kehidupan. Dari pekerja serabutan, pendidik di lembaga pendidikan Islam, pengusaha, hingga menjadi politisi nasional. Sejak 2004, ia mengabdi sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Madura.
Pria yang akrab disapa Buya Said itu lahir di Sumenep pada 22 Oktober 1962. Pada 22 Oktober 2026, usianya genap 64 tahun. Ada hal menarik dari tanggal kelahirannya. Hari ulang tahunnya bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN), sebuah momentum yang mengingatkan kembali pada peran santri dan pesantren dalam membangun karakter, pengetahuan, serta kehidupan kebangsaan.
Bagi Buya Said, persinggungan dengan dunia pesantren bukan sekadar simbolik. Jejak masa mudanya memperlihatkan keterlibatan langsung dalam pendidikan keagamaan. Ia pernah menjadi ustaz, mengajar santri, sekaligus merintis lembaga pendidikan Islam di kawasan pesisir Sumenep.
Sosok pekerja keras dan gemar membaca itu mulai membangun jalan hidupnya sejak usia muda. Kebiasaan membaca bahkan telah tumbuh ketika ia duduk di bangku SMP. Tulisan ini tidak bermaksud merangkum seluruh perjalanan hidupnya, tetapi menelusuri sejumlah fase penting yang membentuk karakter dan perjalanan pengabdiannya.
Momentum ulang tahun yang bertepatan dengan Hari Santri menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana pengalaman hidup, pengabdian di dunia pendidikan, dan pergulatan politik membentuk sosok Buya Said seperti dikenal sekarang.
Dari Keluarga Sederhana hingga Menempuh Pendidikan
Mengutip informasi yang pernah dimuat Koran Madura pada 1 April 2014, MH Said Abdullah merupakan putra pasangan almarhum Abdullah Sechan Baghraf dan Fatimah binti Abdullah Gauzan.
Pendidikan formalnya dimulai di SDN Kepanjen I Sumenep yang diselesaikannya pada 1974. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SLP Islam, yang kini dikenal sebagai SMP Ma’arif, dan lulus pada 1979. Pendidikan menengah atas ditempuh di SMAN 1 Sumenep hingga lulus pada 1982.
Said juga pernah menimba ilmu pada jenjang diploma di Universitas Imam Said, Arab Saudi. Pengalaman pendidikan tersebut menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya, terutama dalam memperkuat bekal pengetahuan agama dan bahasa.
Namun, jalan yang ditempuh Said muda tidak selalu mulus. Di tengah keterbatasan, ia harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Berbagai pekerjaan dilakoninya, mulai dari menjadi tenaga penjualan keripik tempe hingga mencuci mobil di Jakarta.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Ia bersentuhan langsung dengan kerasnya kehidupan, menghadapi tuntutan untuk bertahan, dan belajar menjalani keadaan yang tidak selalu sesuai harapan.
Dari fase inilah ketekunan dan daya juang menjadi bagian dari kisah Said Abdullah. Perjalanan menuju panggung politik nasional tidak berlangsung dalam semalam, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan kerja keras, pendidikan, dan pengalaman di berbagai lingkungan.
Menjadi Ustaz, Mengajar Santri, dan Menanamkan Disiplin
Jauh sebelum dikenal sebagai politisi nasional, Said Abdullah telah bersentuhan dengan dunia politik sejak remaja. Ketertarikan itu berjalan beriringan dengan aktivitasnya di bidang pendidikan dan keagamaan.
Sepulang dari Lembaga Pendidikan Bahasa Arab (LPBA) Jakarta pada 1984, Said kembali ke Sumenep. Ia tidak hanya melanjutkan aktivitas politik, tetapi juga terjun sebagai pendidik atau ustaz di lembaga pendidikan Islam yang diasuh Nyai Hj. Kholidah Thayyibah Baidawi di Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep.
Bersama Nyai Hj. Thayyibah, Said ikut mendirikan Madrasah Diniyah Lughatul Islamiyah. Ia mengajar di lembaga tersebut sejak 1984 hingga 1991.
Pengalaman ini menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Di tengah aktivitas politik yang mulai dirintis, Said menghabiskan waktunya untuk mengajar, mendampingi santri, serta menanamkan kedisiplinan dalam proses belajar.
Keterlibatannya di lembaga pendidikan tersebut pernah ia ceritakan ketika meresmikan Masjid Abdullah Sechan Baghraf di lingkungan Pondok Pesantren Darut Thayyibah, Desa Legung Timur, pada Jumat, 22 Oktober 2021. Kegiatan itu diberitakan melalui laman resmi PDI Perjuangan Jawa Timur pada Sabtu, 23 Oktober 2021.
“Saya tahun 1984 pernah jadi ustaz di sini. Saya yang memberi nama Darut Thayyibah. Saya memberi nama Madrasah Lughatul Islamiyah. Jadi, sudah kewajiban saya untuk mengembangkan Pondok Pesantren Darut Thayyibah,” ungkap Said saat itu.
Kesaksian mengenai aktivitasnya sebagai pendidik juga disampaikan Emha Bayjoeri, salah seorang murid atau santri Said Abdullah di Madrasah Diniyah Lughatul Islamiyah.
Menurut Bayjoeri, Said dikenal sebagai guru agama yang disiplin. Ia menerapkan kebiasaan berbahasa Arab atau Inggris kepada santri kelas V dan VI di ruang kelas. Pembiasaan itu menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan bahasa para santri.
Tidak hanya mengajar pada siang hari, Said juga terlibat dalam kegiatan pendidikan keagamaan pada malam hari. Pengajaran Al-Qur’an dan kitab menjadi bagian dari rutinitas santri. Ada pula kuliah Magrib dan kegiatan qiyamul lail yang diwajibkan bagi para santri.
“Kalau malam, beliau mengelola sistem pengajaran Al-Qur’an dan kitab. Ada kuliah Magrib, ada qiyamul lail untuk sepertiga malam yang wajib diikuti semua santri. Saat itu, tempat istirahat Ustaz Said di musala, tak jauh dari tempat santri beraktivitas,” tutur Bayjoeri.
Ia juga mengenang Said sebagai sosok yang tegas dan disiplin. Ketika santri melanggar aturan, Said memberikan sanksi sebagai bentuk penegakan kedisiplinan. Penguasaan bahasa Arab dan Inggris menjadi salah satu kemampuan yang menonjol dalam diri Said saat mengajar.
Kesaksian tersebut memberikan gambaran bahwa pengalaman Said di dunia pendidikan bukan sekadar persinggahan. Selama beberapa tahun, ia menjalani peran sebagai pengajar yang berinteraksi langsung dengan santri dan lingkungan pesantren.
Dalam konteks Hari Santri Nasional, pengalaman tersebut menjadi sisi lain yang menarik dari perjalanan seorang politisi. Sebelum menempati jabatan strategis di parlemen dan partai, Said pernah menjalani keseharian sebagai ustaz yang mendidik santri di sebuah desa pesisir Sumenep.
Kekaguman kepada Bung Karno dan Jalan Politik
Perjalanan politik Said Abdullah tidak dapat dilepaskan dari kekagumannya kepada Soekarno, Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia.
Pemikiran Bung Karno tentang kebangsaan dan Indonesia menarik perhatian Said muda. Ketertarikan itu kemudian mempertemukannya dengan tradisi politik nasionalis yang berkembang melalui Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Bagi Said, aktivitas di lingkungan pesantren dan ketertarikan terhadap gagasan kebangsaan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru menjadi ruang yang membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Namun, perjalanan politik pada masa Orde Baru bukan perkara mudah. PDI menghadapi dinamika dan tekanan politik dalam sistem kekuasaan saat itu. Said muda turut menjalani proses berpolitik di tengah situasi tersebut.
Di tingkat lokal, ia mulai menempati sejumlah posisi organisasi. Said tercatat pernah menjadi Ketua Banteng Muda Indonesia (BMI) Sumenep periode 1982–1985, Sekretaris DPC PDI Sumenep periode 1983–1988, serta Ketua DPC Majelis Muslimin Indonesia (MMI) Sumenep pada 1984.
Ia kemudian dipercaya menjadi Wakil Ketua DPC PDI Sumenep periode 1988–1992.
Jabatan-jabatan tersebut memperlihatkan bagaimana Said membangun karier politik dari tingkat kabupaten. Ia tidak langsung berada di panggung politik nasional, melainkan melewati proses organisasi dan mengembangkan jejaring politik di daerah.
Perjalanan itu berlanjut ke tingkat provinsi. Pada 2005–2009, Said menjabat Wakil Bendahara DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. Ia kemudian menjadi Bendahara DPD PDI Perjuangan Jawa Timur periode 2009–2014, sebelum dipercaya sebagai Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur bidang perekonomian periode 2014–2019.
Kariernya di tingkat pusat terus berkembang. Pada 2019–2024, Said menjabat Ketua DPP PDI Perjuangan bidang perekonomian. Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur sejak 2023 dan Ketua DPP PDI Perjuangan bidang strategis sejak 2024.
Rangkaian jabatan itu menunjukkan perjalanan panjangnya dalam struktur partai. Dari organisasi kepemudaan dan kepengurusan tingkat kabupaten, Said terus memperoleh kepercayaan untuk menduduki posisi yang lebih tinggi.
Dari Dunia Usaha ke Senayan
Sebelum dikenal luas sebagai anggota DPR RI, Said Abdullah juga menggeluti dunia usaha. Ia pernah menduduki posisi pimpinan di sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara.
Pengalaman sebagai pengusaha menjadi bagian lain dari perjalanan hidupnya. Dunia usaha dan politik merupakan dua ruang berbeda yang sama-sama menuntut kemampuan membaca situasi, membangun relasi, dan mengambil keputusan.
Pada 2004, Said terpilih sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Madura melalui PDI Perjuangan. Sejak saat itu, ia terus memperoleh mandat untuk mewakili masyarakat Madura di parlemen.
Pemilu demi pemilu menjadi bagian dari perjalanan politiknya. Hingga Pemilu 2024, Said tercatat telah terpilih selama lima periode. Ia juga dikenal sebagai salah satu anggota DPR RI dengan perolehan suara yang sangat besar secara nasional.
Di parlemen, Said dipercaya menduduki jabatan Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI. Posisi tersebut menempatkannya dalam salah satu ruang strategis pembahasan kebijakan anggaran negara.
Perjalanan dari Sumenep menuju Senayan menjadi penanda perubahan besar dalam kariernya. Dari seorang pemuda yang pernah menjalani pekerjaan serabutan dan mengajar di madrasah, Said berkembang menjadi politisi nasional dengan pengalaman panjang di partai dan parlemen.
Meski demikian, perjalanan tersebut tidak dapat dibaca hanya melalui deretan jabatan. Ada proses panjang yang menyertainya: pengalaman menghadapi keterbatasan, keterlibatan dalam pendidikan, pembentukan jaringan organisasi, hingga konsistensi menjalani kehidupan politik.
Membaca Makna Pengabdian di Usia 64 Tahun
Bagi penulis, perjalanan MH Said Abdullah menyimpan sejumlah pelajaran yang relevan bagi generasi muda. Salah satunya adalah pentingnya memahami proses dalam membangun kehidupan dan karier.
Said tidak memulai perjalanan dari posisi yang serba mudah. Ia pernah menjalani pekerjaan serabutan, menjadi pengajar di lembaga pendidikan Islam, dan merintis karier politik dari tingkat lokal. Setiap fase menghadirkan pengalaman berbeda yang turut membentuk perjalanan hidupnya.
Ketekunan, kedisiplinan, dan kemauan belajar menjadi unsur penting dalam proses tersebut. Kebiasaan membaca sejak muda, pengalaman mengajar, serta keterlibatan dalam organisasi memperlihatkan bahwa pengembangan diri membutuhkan waktu dan kesungguhan.
Perjalanan politiknya juga menunjukkan pentingnya proses organisasi. Sebelum menempati jabatan di tingkat pusat, Said menjalani sejumlah posisi di tingkat kabupaten dan provinsi. Kepercayaan yang diperolehnya berkembang seiring perjalanan panjang di dalam partai.
Tentu, setiap orang memiliki jalan hidup dan tantangan yang berbeda. Namun, pengalaman Said dapat menjadi bahan refleksi bahwa pencapaian tidak selalu hadir secara instan. Ada kerja keras, kesempatan, pilihan, dan ketekunan yang saling berkelindan dalam membentuk perjalanan seseorang.
Momentum ulang tahun ke-64 yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional memberikan ruang untuk melihat kembali sisi Said sebagai pendidik dan politisi. Pengalamannya di pesantren memperlihatkan bahwa perjalanan hidupnya pernah bersentuhan langsung dengan proses pembentukan karakter generasi muda.
Pada akhirnya, usia bukan semata-mata hitungan tahun. Usia juga menjadi kesempatan untuk menilai kembali perjalanan yang telah ditempuh dan pengabdian yang telah diberikan.
Bagi generasi muda, kisah Buya Said dapat menjadi pengingat bahwa membangun masa depan membutuhkan mental tangguh, pikiran kritis, kemauan belajar, dan kesediaan menjalani proses. Sebab, jalan menuju keberhasilan tidak selalu lurus, tetapi setiap fase dapat menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh.
Di usia 64 tahun, perjalanan Buya MH Said Abdullah masih menjadi bagian dari dinamika politik nasional dan kehidupan masyarakat Madura. Berbagai pengalaman yang telah dilaluinya menjadi catatan tersendiri tentang bagaimana seorang anak daerah menapaki jalan panjang hingga memperoleh tempat di panggung nasional. (*)






