Suryadi: Hari Santri Bukan Sekadar Kopyah dan Sarung, tetapi tentang Etika dan Moral

SUMENEP, LensaMadura.com – Peringatan Hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan. Momentum ini menjadi ruang refleksi untuk menilai sejauh mana nilai-nilai kesantrian hadir dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pandangan itu disampaikan Suryadi, Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Malang yang merupakan lulusan angkatan 2009 Pondok Pesantren Aqidah Usymuni, Sumenep.

Baginya, santri tidak cukup dimaknai melalui identitas fisik, seperti kopyah dan sarung, tetapi harus tercermin dalam karakter, etika, moral, dan tanggung jawab.

“Napas santri yang sesungguhnya adalah etika dan moral. Bukan semata-mata karena seseorang berkopyah atau bersarung, lalu merasa paling santri. Kes santrian itu tercermin dari bagaimana seseorang bersikap, menjaga amanah, menghormati sesama, dan mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya,” demikian pandangan Suryadi.

Menurutnya, pesantren merupakan ruang pendidikan yang menempa seseorang agar tumbuh menjadi pribadi tangguh, disiplin, sederhana, dan memiliki tanggung jawab moral. Nilai-nilai tersebut semestinya tetap melekat ketika seorang santri memasuki berbagai ruang pengabdian, termasuk politik dan pemerintahan.

Dalam pandangan Suryadi, etika dan moral tidak boleh berhenti sebagai nasihat dalam pengajian. Keduanya harus menjadi landasan dalam mengambil keputusan, menjalankan kewenangan, memperjuangkan kepentingan rakyat, serta menjaga kepercayaan masyarakat.

Karena itu, Hari Santri seharusnya tidak hanya dirayakan melalui kegiatan seremonial. Peringatan ini juga perlu menjadi kesempatan untuk mengevaluasi apakah nilai-nilai yang dipelajari di pesantren benar-benar diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

Suryadi mengajak masyarakat, terutama mereka yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren, untuk mengukur pengabdian melalui manfaat yang dirasakan orang lain. Menurutnya, pengalaman belajar di pondok akan memiliki makna lebih ketika ilmu dan nilai yang diperoleh mampu menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitar.

“Hari Santri harus menjadi pengingat bahwa ukuran pengabdian bukanlah simbol yang kita kenakan, melainkan nilai yang kita perjuangkan dan dampak yang kita hadirkan. Santri harus hadir membawa solusi, menjaga moralitas, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegas Suryadi.

Pesan tersebut menempatkan akhlak dan integritas sebagai ukuran penting dalam memaknai kesantrian. Identitas sebagai santri, pada akhirnya, tidak hanya berkaitan dengan tempat seseorang pernah menimba ilmu, tetapi juga bagaimana nilai-nilai pesantren dijalankan dalam kehidupan.

Bagi Suryadi, menjaga tradisi pesantren berarti merawat nilai-nilai luhur yang diajarkan di dalamnya, termasuk kejujuran, amanah, penghormatan terhadap sesama, dan keberpihakan pada kemaslahatan masyarakat.

“Selamat Hari Santri Nasional. Merawat tradisi, menjaga moralitas, dan memperkuat pengabdian untuk negeri,” ucapnya. (*)