Resmi Diluncurkan, Majelis Salakan Dukung Pengembangan Pesantren Annuqayah

SURABAYA, LensaMadura.com – Para santri, alumni, simpatisan, dan pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah meluncurkan wadah baru bernama Majelis Salakan dalam Rapat Nasional I Majelis Salakan di Aula MAN Surabaya, Minggu, 17 Mei 2026.

Forum tersebut dibentuk sebagai ruang konsolidasi alumni dan simpatisan untuk mendukung pengembangan Pondok Pesantren Annuqayah.

Sekitar 500 peserta dari berbagai daerah hadir dalam kegiatan itu, mulai dari Jakarta, Kalimantan, Semarang, Banyuwangi, Bali, Jember, hingga Madura.

Ketua panitia kegiatan, Muhammad Muslim, mengatakan Majelis Salakan diharapkan menjadi ruang bersama bagi alumni, santri, dan simpatisan untuk menyusun program strategis pesantren ke depan.

“Majelis ini nantinya menjadi wadah para alumni, santri, dan simpatisan pondok pesantren untuk menggagas berbagai kegiatan yang mendukung program-program di Pondok Pesantren Annuqayah,” ujar Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya itu.

Menurut Muslim, program yang akan dikembangkan melalui forum tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik pesantren, tetapi juga penguatan sektor pendidikan, pengembangan kapasitas santri, dan perluasan jejaring alumni.

Muhammad Muslim menilai kekompakan alumni menjadi modal penting untuk menjaga kesinambungan perjuangan pesantren.

Karena itu, ia berharap hubungan emosional dan spiritual antara alumni, santri, simpatisan, serta para masyayikh tetap terjaga.

“Yang tidak kalah penting, jangan sampai ada yang mufaraqah dari perjuangan kiai, terutama dalam menjaga akidah Ahlussunnah Wal Jamaah,” katanya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa, KH Muhammad Shalahuddin A Warits, mengatakan pembentukan Majelis Salakan merupakan bagian dari upaya pesantren menjawab tantangan perubahan zaman, terutama dalam menghadapi karakter dan kebutuhan generasi muda.

Menurut Ra Mamak, biasa dipanggil, minat generasi Z untuk menempuh pendidikan di pesantren masih cukup tinggi. Berdasarkan data yang ia peroleh, sekitar 60 persen anak muda masih memiliki ketertarikan mondok di pesantren.

“Artinya, kita harus bersiap-siap menyambut Gen Z dengan situasi dan permasalahan mereka,” ujarnya.

“Majelis ini menjadi penting karena bisa menjadi ruang bersama untuk menyiapkan apa yang dibutuhkan, mulai dari fasilitas, pembaruan pengetahuan, hingga informasi yang sesuai dengan perkembangan zaman,” tambahnya.

Ra Mamak menilai pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral di tengah masyarakat.

“Kalau negara memberikan layanan bagi kehidupan sehari-hari masyarakat, maka pesantren seharusnya memberikan pelayanan moral,” katanya.

Ia mengatakan pesantren saat ini dituntut lebih responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dunia digital.

Dijelaskan, generasi Z menginginkan model pendidikan pesantren yang mampu memadukan pendidikan agama dengan ilmu pengetahuan modern.

“Gen Z itu menginginkan pesantren yang memiliki kombinasi pendidikan. Bukan hanya agama, tetapi juga responsif terhadap ilmu-ilmu yang berkembang sekarang, terutama teknologi digital,” ujarnya.

Pondok Pesantren Annuqayah, lanjut dia, selama ini telah memadukan kurikulum nasional dengan kurikulum lokal kepesantrenan.

“Pola ini menjadi modal penting agar pesantren tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan tradisi dan nilai keislamannya,” uajrnya. (ak)