Mahasiswa PAI di Persimpangan Zaman

oleh: Moh Aisyi, Ketua HMPS PAI STIT Aqidah Usymuni Sumenep

LensaMadura.com – Di tengah arus globalisasi yang semakin deras, tantangan moral generasi muda kian kompleks. Fenomena degradasi etika, krisis identitas, hingga melemahnya kesadaran spiritual bukan lagi sekadar isu, melainkan realitas yang kita hadapi setiap hari. Dalam situasi ini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak bisa hanya diam sebagai penonton.

Selama ini, mahasiswa PAI kerap dipersepsikan hanya sebagai calon guru yang tugasnya mengajar di kelas. Padahal, esensi pendidikan Islam jauh melampaui itu. Pendidikan Islam adalah proses membentuk karakter, menanamkan nilai, serta menghadirkan solusi bagi problem sosial. Dengan kata lain, mahasiswa PAI adalah agen perubahan yang membawa misi keilmuan sekaligus moralitas.

Sebagai bagian dari civitas akademika STIT Aqidah Usymuni, kita hidup di era di mana dakwah tidak lagi cukup dilakukan secara konvensional. Dunia digital telah mengubah cara berpikir dan berinteraksi generasi muda. Informasi tersebar luas, tetapi tidak semuanya mengandung nilai kebenaran. Di sinilah peran mahasiswa PAI menjadi krusial mampu menyampaikan ajaran Islam secara relevan, bijak, dan sesuai dengan konteks zaman.

Peran ini tidak akan terwujud tanpa wadah yang tepat. Organisasi kemahasiswaan seperti HMPS PAI hadir sebagai ruang strategis untuk melatih kepemimpinan, membangun budaya diskusi, serta merancang gerakan yang berdampak nyata. HMPS bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi laboratorium perubahan yang melahirkan mahasiswa berintegritas.

Namun, kita juga perlu jujur melihat ke dalam. Tantangan terbesar bukan hanya dari luar, tetapi dari diri kita sendiri. Sikap pasif, kurangnya inisiatif, dan minimnya kesadaran akan tanggung jawab sering kali menjadi penghambat utama. Potensi besar yang dimiliki mahasiswa PAI akan sia-sia jika tidak diiringi dengan aksi nyata.

Karena itu, sudah saatnya mahasiswa PAI keluar dari zona nyaman. Kita harus memperkuat literasi keislaman, meningkatkan kemampuan komunikasi, serta aktif terlibat dalam dinamika sosial masyarakat. Perubahan tidak akan hadir dengan sendirinya, melainkan harus diperjuangkan dengan kesadaran dan keberanian.

Menjadi mahasiswa PAI berarti siap menjadi teladan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Kita bukan hanya belajar untuk diri sendiri, tetapi untuk membawa manfaat bagi umat. Jika bukan kita yang bergerak hari ini, maka jangan salahkan keadaan jika masa depan kehilangan arah. (*)