Prabowo Hadiri Penutupan Munas NU, Sebut NU Pilar Stabilitas Bangsa

BANGKALAN, LensaMadura.com – Presiden Prabowo Subianto menghadiri penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) 2026 yang digelar Nahdlatul Ulama di Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa, 23 Juni 2026.

Kehadiran Presiden menandai berakhirnya forum strategis NU yang mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa.”

Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syubbanul Wathan, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Rangkaian kegiatan kemudian diisi laporan Ketua Umum PBNU, taujihat Rais Aam PBNU, serta doa sebelum Presiden menyampaikan pidato penutupan.

Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Presiden dalam forum tersebut. Menurut dia, kehadiran kepala negara menjadi pelengkap setelah seluruh agenda Munas dan Konbes berhasil diselesaikan sebagai bagian dari persiapan menuju Muktamar ke-35 NU.

“Kami semua adalah rakyat yang setia kepada negara. Rakyat yang siap berjuang, yang rela berkorban demi bangsa dan negara tercinta. Rakyat yang tidak pernah kehilangan keyakinan dan optimisme akan Indonesia,” kata Yahya yang akrab disapa Gus Yahya.

Ia menegaskan komitmen NU untuk terus menjaga dan merawat kehidupan berbangsa serta bernegara. PBNU juga berharap penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU pada Agustus mendatang dapat berjalan lancar.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Nahdlatul Ulama sejak kecil. Karena itu, ia merasa nyaman berada di tengah keluarga besar organisasi tersebut.

“Saya ingin ucapkan terima kasih atas kehormatan yang besar diberikan kepada saya bisa hadir di tengah saudara-saudara di acara penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026,” ujar Prabowo.

Presiden menilai NU merupakan organisasi keagamaan yang memiliki karakter kuat dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan. Menurut dia, semangat nasionalisme dan patriotisme telah menjadi bagian dari identitas NU sejak sebelum Indonesia merdeka.

“Nahdlatul Ulama adalah memang organisasi keagamaan, tapi sangat nasionalis, sangat patriotik, sangat cinta Tanah Air. Jadi agamis, tapi nasionalis dan patriotik,” kata Prabowo.

Ia juga menyampaikan penghargaan atas kontribusi NU dalam menjaga persatuan bangsa. Menurut Presiden, NU selama ini menjadi salah satu kekuatan sosial yang berperan menjaga stabilitas nasional ketika Indonesia menghadapi berbagai tantangan.

“Keluarga besar NU selalu tampil di saat bangsa Indonesia dalam keadaan sulit. Keluarga besar NU adalah faktor stabilisator, faktor yang bisa membuat aman bangsa dan negara,” ujarnya.

Penutupan Munas dan Konbes NU 2026 ditandai dengan penabuhan kenteng oleh Presiden Prabowo bersama Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar, Ketua MUI Anwar Iskandar, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, serta Menteri Sosial Saifullah Yusuf.

Sejumlah pejabat negara turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Agus Subiyanto, para menteri Kabinet Merah Putih, serta jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. (*)