PAMEKASAN, LensaMadura.com – Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) menjalin kerja sama strategis dengan Pemerintah Desa Lancar untuk membangun kawasan olahraga sunnah yang terintegrasi.
Kawasan tersebut akan dilengkapi fasilitas memanah, berkuda, dan berenang yang dipadukan dengan konsep wisata edukatif-religius serta ekonomi sirkular.
Direktur Utama IBS PKMKK, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, mengatakan kolaborasi tersebut tidak hanya berorientasi pada pembangunan sarana olahraga, tetapi juga sebagai upaya membangun ekosistem pendidikan dan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
“Pesantren tidak dapat tumbuh sebagai pusat peradaban apabila hanya menjadi ruang belajar yang terisolasi dari realitas sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan tempat ia berdiri. Gagasan ini adalah embrio lahirnya ekosistem peradaban yang saling terhubung,” ujar Achmad Muhlis dalam keterangan tertulis, Kamis, 18 Juni 2026.
Menurutnya, pemilihan olahraga memanah, berkuda, dan berenang didasarkan pada nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung di dalamnya.
Memanah, kata dia, mengajarkan fokus, kesabaran, dan ketelitian. Berkuda melatih keberanian, kepemimpinan, serta tanggung jawab, sedangkan berenang membentuk daya tahan, kemampuan beradaptasi, dan ketangguhan menghadapi berbagai situasi.
“Di tengah modernisasi yang penuh distraksi dan krisis identitas, nilai-nilai ini sangat penting bagi generasi muda. Kawasan ini akan menjadi laboratorium pembelajaran yang hidup, di mana santri tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengasah kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, hingga ekologis,” katanya.
Untuk mewujudkan program tersebut, IBS PKMKK dan Pemdes Lancar menyiapkan lahan seluas 5 hingga 10 hektare yang akan dikembangkan secara bertahap.
Selain arena olahraga sunnah, kawasan itu juga dirancang terintegrasi dengan pertanian organik, peternakan, perikanan, ruang terbuka hijau, pusat UMKM, serta area wisata keluarga.
Konsep yang diusung mengedepankan ekonomi sirkular, yakni pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. Rumput di sekitar lintasan berkuda, misalnya, akan dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan kotoran kuda diolah menjadi pupuk organik untuk perkebunan pesantren.
Hasil pertanian dan peternakan nantinya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan santri sekaligus menjadi daya tarik wisata edukasi.
Achmad Muhlis menegaskan, masyarakat Desa Lancar akan dilibatkan secara aktif dalam pengelolaan kawasan tersebut, mulai dari peternak kuda, pengelola UMKM, penyedia kuliner lokal, hingga instruktur olahraga.
“Masyarakat Desa Lancar tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi bagian dari proses pembangunan ini sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan secara langsung,” ujarnya.
Saat ini, IBS PKMKK bersama Pemdes Lancar tengah menyusun master plan pengembangan kawasan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, dan komunitas olahraga.
Tahapan berikutnya meliputi pemetaan lahan, penyusunan studi kelayakan, pembentukan badan pengelola bersama, serta penguatan jejaring kemitraan.
Achmad Muhlis optimistis model pengembangan yang dimulai dari Desa Lancar tersebut dapat menjadi contoh pembangunan berbasis pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat di tingkat nasional.
“Dari Desa Lancar, kita ingin membuktikan bahwa pendidikan tidak boleh dipisahkan dari ekonomi, agama tidak dipisahkan dari lingkungan, dan pembangunan tidak dipisahkan dari kemanusiaan. Di sinilah pendidikan menemukan makna tertingginya, tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memuliakan kehidupan,” pungkasnya. (*)






