SUMENEP – Sebuah momen penuh haru dan kebahagiaan terukir di Kabupaten Sumenep. Moh. Saleh, S.H., pengacara dan pengusaha asal Sumenep, resmi mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting Fauziah, S.Pd.I., pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Akad dan rangkaian resepsi pernikahan berlangsung di Gedung Graha Adipoday, Sumenep. Ratusan tamu undangan dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat, hadir menyaksikan penyatuan dua insan dalam suasana khidmat dan penuh kehangatan.
Mimpi Pernikahan Emas dan Takdir yang Berbeda
Di balik kemegahan acara tersebut tersimpan kisah yang menyentuh. Pernikahan ini menjadi bagian dari perjalanan panjang Moh. Saleh yang sebelumnya memiliki harapan untuk merayakan 50 tahun pernikahan atau “Pernikahan Emas” bersama almarhumah istrinya, Hj. Hosnaningsih.
Namun, takdir berkata lain. Lima tahun lalu, Hj. Hosnaningsih berpulang ke rahmatullah. Kepergiannya membuat rencana perayaan setengah abad pernikahan yang telah dibayangkan harus pupus.
Dalam perjalanan waktu, kehidupan kemudian mempertemukan Moh. Saleh dengan Fauziah, S.Pd.I. Kehadiran Fauziah menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya. Sosok Fauziah dinilai memiliki sejumlah kesamaan karakter dengan almarhumah istrinya, termasuk sifat anggun, kebaikan hati, dan sikap yang membuat keduanya memiliki kecocokan.
Bagi Moh. Saleh, pertemuan tersebut menjadi sebuah kejutan takdir sekaligus kesempatan untuk kembali menata kehidupan bersama pasangan baru.
Mengawali Pernikahan dengan Haul Almarhumah Istri
Salah satu bagian paling mengharukan dalam rangkaian acara tersebut adalah keputusan Moh. Saleh untuk mengawali hari bahagianya dengan prosesi haul untuk almarhumah Hj. Hosnaningsih.
Prosesi tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada sosok yang pernah mendampinginya dalam perjalanan hidup, sekaligus menunjukkan bahwa hadirnya cinta baru tidak berarti menghapus kenangan dan jasa dari cinta yang telah lebih dahulu menjadi bagian dari kehidupannya.
Di tengah kebahagiaan pernikahan, nama dan kenangan almarhumah tetap mendapatkan tempat terhormat.
Akad Nikah dan Rangkaian Acara Penuh Haru
Seluruh rangkaian acara yang dipersiapkan dan diarahkan oleh Rifan Khoridi berlangsung dengan tertib dan penuh nuansa kehangatan.
Acara diawali dengan lantunan rebana dari Rebana Muslimat Gedungan, kemudian dipandu oleh Yanto selaku pembawa acara.
Suasana semakin khidmat dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan oleh Ustaz Sabry. Prosesi dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan doa haul yang dipimpin oleh KH. Hanif.
Puncak acara berlangsung ketika prosesi akad nikah digelar di hadapan Kepala Bidang Urusan Agama Kementerian Agama Kabupaten Sumenep. Ijab kabul dipimpin langsung oleh KH. Hanif.
Prosesi sakral tersebut turut disaksikan oleh H. Rawi, putra Fauziah, bersama keluarga dan para tamu undangan.
Puisi, Kenangan, dan Lagu Cinta
Nuansa haru semakin terasa ketika tayangan visual berisi puisi persembahan untuk almarhumah Hj. Hosnaningsih diputar di hadapan para tamu.
Momen tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi cinta secara bergantian antara Moh. Saleh dan Fauziah. Keduanya kemudian menutup rangkaian momen romantis tersebut dengan duet lagu “Setulus Hatimu Semurni Cintaku.”
Pernikahan Moh. Saleh dan Fauziah bukan hanya menjadi perayaan penyatuan dua insan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenang cinta, menghormati masa lalu, dan menyambut lembaran kehidupan yang baru.
Di antara doa, air mata, dan kebahagiaan, keduanya memulai perjalanan baru dengan harapan membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Selamat menempuh hidup baru untuk Moh. Saleh, S.H. dan Fauziah, S.Pd.I. Semoga pernikahan ini senantiasa dilimpahi keberkahan, ketenteraman, kasih sayang, dan kebahagiaan hingga akhir hayat. (*)





