Kadisdikbud Pamekasan Buka Olimpiade di Pasean, Apresiasi Pelestarian Budaya dan Inovasi Digital
PAMEKASAN, LensaMadura.com – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan, Akhmad Basri Yulianto, memberikan apresiasi atas pelaksanaan Olimpiade Mata Pelajaran tingkat Sekolah Dasar (SD) se-Kecamatan Pasean. Ia menilai Pasean memiliki keistimewaan karena mampu memadukan pelestarian budaya lokal dengan kemajuan digitalisasi pendidikan.
Apresiasi tersebut disampaikan Basri saat membuka Olimpiade Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), IPA, Matematika, dan IPS di Gedung Pusat Kegiatan Guru (PKG) Kecamatan Pasean, Senin, 9 Februari 2026.
Dalam sambutannya, Basri mengaku secara khusus memprioritaskan kehadirannya di Pasean meski memiliki sejumlah agenda lain pada hari yang sama.
“Saya punya firasat Pasean ini pasti ada sesuatu yang istimewa. Ternyata benar, saya menemukan empat hal yang luar biasa,” ujarnya.
Keistimewaan pertama, menurut Basri, adalah keberadaan kepala sekolah yang mahir nembang, yang dinilainya sebagai hal langka dan mencerminkan sosok pendidik sekaligus seniman penjaga nilai budaya.
Keistimewaan kedua adalah penggunaan Bahasa Madura dalam pembawa acara dan laporan ketua panitia, yang menunjukkan kuatnya identitas lokal di lingkungan pendidikan.
“Di tengah gempuran budaya luar, nilai-nilai tradisional sering ditinggalkan. Pasean justru mampu mempertahankannya, ini patut dibanggakan,” tegasnya.
Hal ketiga yang membuat Basri terkesan ialah penampilan Tari Rondhing. Ia mengenang pengalamannya saat membawa tarian tersebut ke ajang pameran internasional di Ho Chi Minh City, Vietnam, pada 2016, ketika masih menjabat Kepala Bagian Perekonomian.
“Tari Rondhing atau Topeng Ghettak ini merupakan warisan budaya tak benda asli Pamekasan. Tolong dijaga dan dilestarikan,” pesannya.
Keistimewaan terakhir adalah kesiapan materi akademik. Basri memuji panitia yang telah menyusun modul pembinaan sejak Januari sebagai acuan belajar peserta.
“Dengan adanya modul, peta jalan pembinaan menjadi jelas. Sekolah tidak bingung arah dan pembinaan bisa lebih terstruktur,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Kecamatan Bidang Pendidikan dan Kebudayaan (Korwilcam Bidikbud) Pasean, Akhmad Taufik Rahmad, menjelaskan bahwa olimpiade tahun ini mengusung konsep berbeda karena berbasis digital.
Kompetisi dilaksanakan menggunakan Learning Management System (LMS) hasil karya mandiri Kelompok Kerja Guru (KKG) Pasean.
“Kami bangga kepada teman-teman KKG. Tanpa banyak komando dan hanya melalui beberapa kali rapat, mereka berhasil menciptakan sistem ini. Ini bukti guru-guru Pasean terus berkarya,” ujar Taufik.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memotivasi guru dan siswa, serta melahirkan peserta didik yang mampu mewakili Pasean di tingkat kabupaten hingga Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Ketua Panitia, Sutrisno Eko Saputro, melaporkan olimpiade diikuti 34 sekolah se-Kecamatan Pasean dan dilaksanakan di Gedung PKG Pasean serta SDN Tlontoraja 6. Setiap sekolah mengirimkan maksimal dua peserta terbaik untuk setiap mata pelajaran.
“Jumlah peserta cukup tinggi. Mata pelajaran PAI diikuti 66 siswa, IPA 64 siswa, Matematika 63 siswa, dan IPS 59 siswa. Tahun ini istimewa karena ada penambahan mata pelajaran PAI dan IPS,” katanya. (das)



