Profil Hairul Anam: Dari Pesantren, Jurnalistik hingga Penggerak Literasi dan Media

PAMEKASAN, LensaMadura.com – Hairul Anam lahir di Pamekasan pada 4 Mei 1989. Perjalanan pendidikannya dimulai di Yayasan Sosial dan Pendidikan Islam Miftahul Ulum (Yaspimu), Desa Kertagena Tengah, Kecamatan Kadur, Pamekasan, dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas.

Selepas itu, Anam melanjutkan perjalanan intelektualnya di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Pada 2007-2012, ia menjalani dua kehidupan sekaligus: sebagai mahasiswa dan santri.

Dirgahayu RI ke-81

Lingkungan pesantren menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan intelektualnya. Di Annuqayah, Anam mengembangkan ketertarikannya pada dunia kepenulisan, baik fiksi maupun karya ilmiah.

Kemampuan tersebut kemudian membawanya meraih juara dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat nasional. Dalam kompetisi itu, ia bersaing dengan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi ternama, termasuk Universitas Gadjah Mada dan Universitas Airlangga.

Dunia riset dan kepenulisan juga mempertemukannya dengan pers kampus. Semasa kuliah, Anam pernah menjadi kontributor Harian Surya, mengelola Majalah Fajar, serta turut menginisiasi pendirian Majalah Hijrah.

Dari Pers Kampus ke Dunia Jurnalistik

Setelah menyelesaikan studinya di Annuqayah, Anam bergabung dengan Harian Pagi Kabar Madura pada 10 Juni 2012. Dari ruang redaksi, ia mulai memperluas pengalaman jurnalistiknya dengan berbagai penugasan.

Di tengah aktivitas sebagai wartawan, ia kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang Pascasarjana UIN Madura.

Latar belakang Pendidikan Agama Islam tidak membatasi minat belajarnya. Anam justru memperluas bacaannya ke berbagai bidang, mulai dari filsafat, sejarah, sastra hingga metafisika.

Karier jurnalistiknya mendapat pengalaman penting pada 2013. Ia terpilih menjadi salah satu wartawan dari Indonesia untuk meliput proyek perluasan Masjidil Haram di Makkah.

Penugasan tersebut membawanya ke Arab Saudi. Selain meliput perkembangan proyek di Makkah, ketika berada di Madinah ia juga menulis sejumlah laporan mendalam mengenai perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menulis Buku dan Masuk Ruang Akademik

Jurnalistik bukan satu-satunya ruang yang digeluti Anam. Ia juga aktif dalam kegiatan literasi dan akademik.

Pada periode 2013-2020, Anam menghasilkan empat buku yang pembiayaannya berasal dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Karya terbarunya terbit pada 2026 dengan judul Di Balik Layar Demokrasi, yang ditulis bersama Miftahur Rozaq.

Perjalanan di bidang pendidikan kemudian memperluas aktivitasnya. Pada 2020, Anam terpilih sebagai Dosen Praktisi Kemendikbudristek RI dan mendapat penugasan mengajar di Universitas Madura.

Setahun kemudian, ia menjadi pembicara dalam program Gerakan Literasi Digital yang dikontrak oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.

Sejak 2026, Anam bergabung sebagai dosen di Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UNIBA Madura. Ia mengampu mata kuliah Creative Writing dan Mass Communication.

Memperkuat Kompetensi dan Organisasi Pers

Di organisasi profesi wartawan, Anam terpilih sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pamekasan pada 2025. Pada tahun yang sama, ia juga menjadi bagian dari kepengurusan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jawa Timur.

Kompetensinya sebagai wartawan diperkuat melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW) tingkat utama Dewan Pers yang ia lulus pada 2025.

Setahun berselang, ia kembali mencatatkan capaian dengan lulus sebagai asesor UKW Dewan Pers. Ia menjadi asesor UKW Dewan Pers pertama dan satu-satunya dari Pulau Madura.

Dari Redaksi ke Bisnis Media

Aktivitas Anam kemudian berkembang ke sektor bisnis. Ia terlibat dalam sejumlah usaha, di antaranya bisnis kelapa sawit di Kalimantan, industri rokok, serta Tok Patok.

Di industri media, ia menempati sejumlah posisi strategis. Ia tercatat sebagai Direktur Utama Kabar Madura, Direktur Utama K-TV, Komisaris Utama Media Jatim, serta pendiri kabarjatim.co dan kabaranyar.com.

Berbagai peran tersebut memperlihatkan perjalanan Anam yang bergerak dari lingkungan pesantren, ruang redaksi, dunia akademik, organisasi profesi hingga pengelolaan bisnis dan media.

Di balik perjalanan itu, ia memegang satu prinsip yang menjadi pijakan dalam menjalani kariernya: “Satu-satunya kegagalan di dunia ini adalah kegagalan untuk mencoba.” (*)