SUMENEP, LensaMadura.com – Parjuga Society menggelar Majelis Buku edisi kedua dengan membedah buku Manusia Merdeka yang Memerdekakan karya Nunung Fitriana di Sekretariat Parjuga, Gedungan, Sumenep, Sabtu, 11 Juli 2026.
Majelis Buku Parjuga Society kali ini dikemas dalam format semi-podcast. Acara dipandu oleh Co-Founder sekaligus Manajer Program Parjuga Society, Kiko Anwar.
Diskusi membahas gagasan tentang pendidikan yang dinilai masih cenderung menekankan penyeragaman dan pengelompokan berdasarkan kemampuan kognitif peserta didik.
Nunung Fitriana yang juga Kepala SDN 1 Bluto mengatakan buku tersebut lahir dari refleksi panjang mengenai praktik pendidikan yang dijalaninya selama bertahun-tahun.
“Sejak kuliah saya banyak mempertanyakan berbagai persoalan dalam dunia pendidikan. Proses itu kemudian berkembang melalui perjumpaan dengan berbagai tokoh pendidikan dan bacaan yang saya pelajari,” katanya.
Ia menyebut sejumlah tokoh yang memengaruhi pemikirannya, antara lain Ahmad Bahrudin, Agus Sunyoto, Toto Rahardjo, Sri Wahyaningsih, serta pemikir pendidikan Paulo Freire dan Ivan Illich.
Menurut Nunung, pendidikan seharusnya menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan sekaligus memberi kesempatan kepada setiap anak untuk berkembang sesuai potensinya.
“Kita ingin mengembalikan makna pendidikan. Sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan dan membahagiakan bagi semua. Karena itu, setiap karya siswa kami apresiasi,” ujarnya.
Buku Manusia Merdeka yang Memerdekakan dibagi dalam dua bagian, yakni Beyond dan Back Through.
Di dalam setiap sesinya pembaca akan diajak untuk menghargai kebebasan, kreativitas, dan kebahagiaan peserta didik.
“Harapannya, buku ini memberi kontribusi untuk dunia pendidikan. Semoga bisa menjadi panduan praktis bagi para guru, orang tua dan segenap pemangku kebijakan,” jelasnya.
Founder Parjuga Society, Slamet Wahedi, mengatakan Majelis Buku merupakan agenda yang dirancang untuk menghadirkan ruang dialog terbuka mengenai berbagai gagasan.
“Selain menjadi gelanggang wacana, kami berharap Majelis Buku dapat menjadi perekat antarkomunitas literasi di Kabupaten Sumenep,” ujarnya.
Seluruh rangkaian diskusi, mulai dari pemaparan isi buku hingga sesi tanya jawab, akan dipublikasikan melalui kanal YouTube dan Spotify Parjuga Society. (*)
