PROBOLINGGO, LensaMadura.com – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menyoroti pentingnya penguatan pendidikan karakter dan literasi digital dalam kunjungan daerah pemilihan (kundapil) di Universitas Nurul Jadid, Paiton, Sabtu, 16 Mei 2026.
Dalam dialog bersama civitas akademika, tokoh pesantren, organisasi sosial, dan masyarakat, Lia mengatakan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini tidak lagi sebatas persoalan pendidikan formal, tetapi juga berkaitan dengan perubahan sosial dan derasnya arus informasi digital.
Menurut perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu, pendidikan Islam perlu mengambil peran lebih besar dalam membentuk karakter generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.
“Pendidikan karakter dan moderasi harus terus diperkuat. Generasi muda perlu dibangun tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, dan nilai kebangsaan yang kuat,” ujarnya.
Lia menilai pesantren dan perguruan tinggi keagamaan memiliki posisi strategis dalam menjaga ketahanan moral masyarakat. Karena itu, ia mendorong penguatan dukungan terhadap lembaga pendidikan Islam, baik melalui peningkatan sarana prasarana, kualitas tenaga pendidik, maupun pengembangan program akademik dan riset.
Selain isu pendidikan karakter, Lia juga menyoroti pentingnya literasi digital di kalangan anak muda. Menurut dia, kemampuan memilah informasi dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab menjadi kebutuhan mendesak di tengah maraknya hoaks dan ujaran kebencian di media sosial.
“Literasi digital harus menjadi bagian dari pendidikan masyarakat. Anak-anak muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan,” katanya.
Dalam forum tersebut, Lia turut menyinggung pentingnya pemberdayaan perempuan dalam pembangunan sosial masyarakat. Ia menilai perempuan memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan keluarga sekaligus pendidikan generasi muda.
Karena itu, ia mendorong perluasan akses pendidikan bagi perempuan, termasuk pelatihan keterampilan, penguatan literasi digital, dan pengembangan kapasitas kepemimpinan berbasis organisasi sosial maupun keagamaan.
Persoalan akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu juga menjadi perhatian dalam dialog itu. Lia mendorong perluasan program beasiswa, terutama bagi masyarakat pedesaan dan lingkungan pesantren, agar pemerataan pendidikan berkualitas dapat terus ditingkatkan.
Ia juga meminta perguruan tinggi memperkuat program pengabdian masyarakat yang berbasis kebutuhan riil warga melalui kolaborasi dengan organisasi sosial dan masyarakat setempat.
“Pembangunan sumber daya manusia harus dilakukan secara kolaboratif. Sinergi pemerintah, perguruan tinggi, organisasi sosial, dan masyarakat menjadi kunci untuk membangun generasi yang adaptif dan berdaya saing,” ujarnya. (*)
