Nasional

JSI Bahas Penguatan Kompetensi Jurnalistik bersama Administrator LUKW Unitomo Surabaya

SURABAYA, LensaMadura.com – Jurnalis Sumenep Independen (JSI) menggelar pertemuan bersama salah satu Administrator Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya, Ahmadi Neja, untuk membahas penguatan kompetensi jurnalis sekaligus perkembangan kebijakan Dewan Pers.

Pertemuan itu berlangsung akrab di salah satu kafe di Surabaya, Minggu malam, 7 Desember 2025.

Dalam pertemuan tersebut, Ahmadi Neja yang juga merupakan Unitomo Surabaya, memaparkan sejumlah aspek mendasar terkait profesi kewartawanan, termasuk kode etik jurnalistik, pedoman penulisan, hingga tantangan perkembangan media siber.

“Kompetensi itu bukan sesuatu yang bisa diperjualbelikan. Wartawan memegang peran penting dalam menjaga kualitas informasi publik,” ujarnya.

Ia juga menyoroti praktik rangkap profesi wartawan sebagai aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM). Menurut dia, laporan terkait pelanggaran ketentuan Dewan Pers dapat ditindaklanjuti, bahkan berpotensi berujung pada pembekuan media atau pencantuman dalam daftar hitam apabila terbukti melanggar.

Ahmadi turut menjelaskan perkembangan verifikasi administrasi perusahaan pers yang ke depannya akan terhubung dengan sistem E-Katalog pemerintah. Ia menyebut kebijakan tersebut sedang dimatangkan untuk memastikan hanya media terverifikasi yang dapat bekerja sama dengan instansi pemerintah.

“Tidak semua media bisa langsung bekerja sama dengan pemerintah. Harus ada verifikasi agar jelas mana perusahaan pers yang benar-benar menjalankan fungsi jurnalistik,” katanya.

Menurut dia, tahapan integrasi E-Katalog juga tengah disiapkan di berbagai instansi demi memastikan perusahaan media yang terlibat merupakan lembaga resmi dan beroperasi sesuai standar profesional.

Dalam pemaparannya, Ahmadi kembali menegaskan perbedaan antara konten media sosial dan produk jurnalistik. Ia menjelaskan bahwa media siber memiliki proses verifikasi yang membedakannya dari sekadar distribusi informasi di platform digital.

“Informasi belum tentu berita, tapi berita pasti merupakan informasi,” ujarnya menegaskan.

Ia menambahkan, masih banyak jurnalis yang perlu meningkatkan kemampuan teknis, baik dalam penulisan, pemahaman kode etik jurnalistik, maupun penggunaan bahasa Indonesia sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Menurutnya, kemampuan tersebut perlu terus diasah seiring berkembangnya teknologi informasi.

Pada kesempatan itu, Ahmadi juga menjelaskan pemanfaatan Artificial Intellegence (AI) dalam penyusunan berita. Menurut dia, teknologi dapat menjadi alat bantu bagi wartawan jika digunakan dengan benar.

AI itu seperti bayi yang harus dilatih. Jika dilatih dengan baik, maka hasilnya akan baik dan positif,” ujarnya.

Ketua JSI Sumenep, Igusty Madani, menyampaikan apresiasi atas kesediaan Ahmadi menerima rombongan JSI untuk berdiskusi dan berkonsultasi. Ia menilai pertemuan tersebut penting untuk menjaga kualitas karya jurnalistik anggota JSI agar tetap sesuai ketentuan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

“Itu penting agar rekan-rekan lebih memahami profesi yang menjadi tanggung jawabnya,” ujarnya. (*)

Related Articles

Back to top button