Densus 88 Antiteror Mabes Polri Ajak Dai dan Khatib di Sumenep Dorong Penguatan Islam Wasathiyah

Densus-88-Antiteror-Mabes-Polri-Ajak-Dai-dan-Khatib-di-Sumenep-Dorong-Penguatan-Islam-Wasathiyah
Direktur Pencegahan Densus 88 Antiteror Polri diwakili AKBP Moh. Dofir, S.Ag., S.H., M.H saat sambutan pada silaturrahmi dengan para dai dan khatib dalam rangka pencegahan intoleransi dan radikalisme untuk Indonesia damai dan cinta tanah air di Aula Al-Ikhlas Kantor Kemenag Sumenep Kamis, 16 Juni 2022 pagi. (Foto: Panitia For LensaMadura.Com)

SUMENEP, lensamadura.com – Direktorat Pencegahan Densus 88 Antiteror Mabes Polri mengumpulkan 75 para Dai dan Khatib di Aula Al-Ikhlas Kantor Kemenag Sumenep Kamis, 16 Juni 2022.

Para tokoh agama itu diajak silaturahim untuk menguatkan pemahaman Islam Wasathiyah untuk Indonesia damai.

Kanit 1 Subdit Kontra Ideologi Densus 88 Antiteror Mabes Polri AKBP Moh. Dofir saat sambutan menyampaikan banyak harapan kepada para dai dan khatib di Sumenep.

Pada diri tokoh agama tersebut kata AKBP Dofir melekat peran penting. Karena selalu di tengah-tengah masyarakat untuk menyampaikan narasi keagamaan.

“Sering kali kita mendengar berbagai seminar dan webinar tentang bahaya dan ancaman intoleransi dan radikalisme yang diadakan oleh berbagai instansi dan elemen masyarakat,” terang AKBP Moh. Dofir.

Karena radikalisme, lahan subur berkembangnya kejahatan terorisme. Salah satu indikator bibit radikalisme itu subur adalah intoleransi.

Baca Juga :  Perluasan Hang Nadim, La Nyalla Ingatkan Agar Libatkan Pengusaha Lokal

Intoleransi, sambung AKBP Moh. Dofir, sangat meresahkan. Sering dipertontonkan di ruang publik. Sengaja disebarkan untuk mengaduk-aduk perasaan masyarakat.

Padahal masyarakat sebenarnya memiliki akar budaya tenggang rasa, saling menghargai dan menghormati antar orang perorang. Antar kelompok masyarakat dengan kelompok lain. Termasuk antar penganut agama dan suku yang satu dengan lainnya.

“Intoleransi beragama adalah suatu kondisi jika suatu kelompok secara spesifik menolak untuk menoleransi praktek-praktek, para penganut atau kepercayaan yang berlandaskan agama,” urai AKBP Moh. Dofir di hadapan peserta silaturrahmi dai dan khatib dalam rangka penguatan Islam Wasathiyah Untuk Indonesia damai tersebut.

Penyebabnya, antara lain rendahnya pengetahuan agama, tidak terbuka tentang pengetahuan, mengedepankan norma agama tanpa melibatkan norma sosial dan banyaknya penyebaran isu kebencian di media.

Sedangkan radikalisme adalah paham yang dibuat seseorang atau kelompok yang ingin perubahan sosial dan politik secara drastis dengan cara kekerasan.

Baca Juga :  Optimalkan Potensi ZIS, Kemenag Sumenep Laksanakan Program Kampung Zakat

“Sikap intoleransi bentuk pengingkaran terhadap kebhinnekaan dan bertentangan dengan nilai-nilai pancasila,” paparnya.

Bagi Densus 88 Antiteror Mabes Polri, salah satu hal mendasar untuk memerangi terorisme dan radikalisme adalah mengembangkan sikap toleran dan menghilangkan eklusifisme kelompok.

Penting berfikir terbuka dan toleransi. Lalu waspadai provokasi dan hasutan. Upayakan selalu berjejaring dalam komunitas perdamaian.

Kegiatan silaturahim dai dan khatib, kata AKBP Moh. Dofir, sangat strategis. Karena para tokoh agamalah terjun di masyarakat untuk cegah paham intoleran dan radikal.

Mereka memiliki peran sentral sebagai agen narasi agama yang moderat. Khatib memiliki otoritas menasehati dan mengarahkan jemaah jumat.

Lebih lanjut AKBP Moh. Dafir mengupas tiga peran utama khatib. Yaitu, menyampaikan pesan damai, bisa diterima semua pihak karena netral dan berintegritas. Serta keteladanan bagi umat.

Baca Juga :  Peresmian Lughis Sport Center Ditandai Pemotongan Pita, Ini Tujuannya

Kedepannya, Densus 88 Antiteror Polri berharap dai dan khatib bisa membumikan materi khatbah di tengah kerinduan spiritual jemaah.

“Sehingga materi khatbah relevan dengan situasi dan kondisi kebutuhan rohani setiap jamaah,” pungkasnya.

Kegiatan kerjasama Densus 88 Antiteror Mabes Polri, Kemendagri, Kemenag dan ormas keagamaan ini menghadirkan tiga nara sumber.

KH. Dr. Nawawi Thabrani, M. Hi pengasuh pondok pesantren Al-Azhar Asembagus Situbondo yang juga pengurus MUI Jatim dan Syuriah PCNU Situbondo.

Kemudian Dr. KH. A. Busyro Karim M.Si mantan Bupati Sumenep dan pengasuh pondok pesantren Al-Karimiyah Beraji Gapura Sumenep. Serta Febri Ramadhani mantan Deportan ISIS.

Sepanjang tahun 2022 Densus 88 dua kali menggelar kegiatan bersama para dai dan khatib di Sumenep. Selanjutnya direncanakan di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk dan kepulauan Kangean Sumenep. (Yan)

Dapatkan Berita Terupdate dari Lensa Madura di: