SUMENEP, LensaMadura.com – Keluarga besar keturunan Khatib Paranggan bin Pangeran Katandur berencana menjadikan kawasan Paranggan, Desa Bangkal, Kecamatan Kota Sumenep, sebagai tempat pertemuan rutin setiap tiga bulan.
Rencana itu disampaikan KHR. Khalil Muhammad Gunung Sari, putra KHR. Muhammad bin Imam Gunung Sari, saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul Khatib Paranggan bin Pangeran Katandur di Asta Khatib Paranggan, Minggu malam, 16 Agustus 2026.
Pertemuan tersebut nantinya tidak sekadar menjadi ajang berkumpul keluarga. Kegiatan akan diisi dengan pembacaan kitab dan Shalawat Nariyah.
“Setiap tiga bulan satu kali di Paranggan diadakan pertemuan rutin. Kegiatannya diisi pembacaan kitab dan pembacaan Shalawat Nariyah,” dawuh KHR Khalil Muhammad Gunung Sari.
Menurut KHR Khalil, agenda tersebut diharapkan menjadi sarana menjaga tradisi yang diwariskan keluarga besar keturunan Khatib Paranggan sekaligus mempererat silaturahmi antarketurunan dan masyarakat.
Ia mengatakan pembacaan Selawat Nariyah memiliki hubungan dengan amanah yang diwariskan melalui garis keturunan Khatib Paranggan. Ayahnya, KHR. Muhammad bin Imam Gunung Sari, disebut sebagai salah satu keturunan Khatib Paranggan yang menerima amanah untuk membaca Selawat Nariyah.
Tradisi tersebut, lanjut dia, juga memiliki keterhubungan dengan sejumlah ulama di berbagai daerah. Di antaranya K. Sufyan, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, serta K. Khalil As’ad Syamsul Arifin, pengasuh Pondok Pesantren Walisongo.
Menurut Khalil, sanad pembacaan Shalawat Nariyah itu kemudian berkembang hingga sejumlah negara di Asia, seperti Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia, dan Singapura.
“Semua sanadnya bermuara kepada KHR. Muhammad bin Imam Gunung Sari,” dawuhnya.
Pesan Wabup untuk Keturunan Buju’ Paranggan
Peringatan Maulid dan Haul tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Sumenep KH Imam Hasyim, KHR. Kholil Mohammad, KHR. Abd. Qadir Muhamad, serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Perwakilan Forkopimka Kecamatan Kota, Pemerintah Desa Bangkal, dan ratusan masyarakat juga hadir dalam kegiatan yang berlangsung di Asta Khatib Paranggan, Dusun Paddusan, Desa Bangkal.
Dalam kesempatan itu, KH Imam Hasyim mengajak keluarga besar keturunan Buju’ Paranggan untuk terus menjaga nilai kesalehan yang diwariskan para leluhur.
Menurutnya, nilai tersebut tidak cukup hanya dikenang melalui kegiatan haul, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
“Kesalehan Buju’ Paranggan hendaknya kita jaga dengan mengamalkan amar makruf nahi mungkar. Semuanya dapat dimulai dari diri sendiri, dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan ketulusan,” kata Imam Hasyim.
Ia juga mengingatkan keluarga besar keturunan Buju’ Paranggan agar tidak menjadikan garis keturunan sebagai ukuran utama kemuliaan seseorang.
Imam Hasyim menekankan bahwa ketakwaan merupakan ukuran yang harus dijaga setiap manusia. Karena itu, ia meminta keturunan para leluhur menjaga nama baik keluarga melalui perilaku dan pengamalan nilai-nilai kebaikan.
“Allah tidak menilai seseorang semata-mata karena keturunannya. Yang menjadi ukuran adalah ketakwaan. Karena itu, mari kita menjaga nama baik para leluhur dengan perilaku yang baik,” pungkasnya. (*)







