PAMEKASAN, LensaMadura.com – Kebahagiaan dalam kehidupan modern kerap dikaitkan dengan kepemilikan materi, jabatan, dan pengakuan sosial. Padahal, dalam perspektif Islam, kegembiraan memiliki dimensi yang lebih luas dan berkaitan dengan kesadaran atas karunia serta rahmat Allah.
Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan sekaligus Ketua Senat UIN Madura, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, mengajak umat Islam merefleksikan kembali makna kebahagiaan melalui Al-Qur’an Surat Yunus ayat 58.
Menurut Prof. Achmad Muhlis, Al-Qur’an tidak melarang manusia untuk bergembira. Namun, kegembiraan tersebut perlu memiliki landasan dan orientasi yang tepat agar tidak semata-mata didasarkan pada pencapaian material.
“Al-Qur’an mengarahkan agar kegembiraan memiliki orientasi transendental. Kebahagiaan sejati tidak diukur dari apa yang kita miliki, melainkan dari sejauh mana kita menyadari hadirnya karunia (fadhlullah) dan rahmat Allah (rahmatullah) dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Prof. Muhlis, Rabu, 26 Agustus 2026.
QS. Yunus ayat 58, menurut dia, memberikan pesan agar manusia menggeser pusat kebahagiaan dari sekadar kepemilikan menuju kebermaknaan spiritual. Karunia Allah tidak hanya dinikmati, tetapi juga disyukuri dan diwujudkan melalui perilaku yang memberikan manfaat.
Ia mencontohkan pencapaian seorang anak yang berhasil menghafal Al-Qur’an. Keberhasilan tersebut layak dirayakan, tetapi kegembiraannya tidak semestinya berhenti pada kebanggaan akademik atau kepuasan pribadi.
Capaian itu, kata dia, perlu dipandang sebagai karunia Allah yang harus dijaga melalui rasa syukur dan diwujudkan dalam amal nyata.
Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam itu kemudian mengaitkan pemaknaan tersebut dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurut dia, QS. Yunus ayat 58 dapat menjadi salah satu landasan untuk memahami kegembiraan atas diutusnya Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Namun, ia mengingatkan agar kegembiraan dalam perayaan keagamaan tidak berhenti pada ekspresi simbolis dan ritual semata.
“Ketika masyarakat berkumpul memperingati Maulid, membaca Al-Qur’an, bershalawat, menyantuni anak yatim, hingga berbagi makanan kepada yang membutuhkan, di situlah kegembiraan individual bertransformasi menjadi modal sosial. Kebahagiaan pribadi dikonversikan menjadi kebahagiaan bersama,” jelasnya.
Menurut Prof. Muhlis, kehidupan masyarakat tidak cukup dibangun hanya berdasarkan kepentingan ekonomi. Nilai dan pengalaman spiritual bersama juga dapat menjadi perekat sosial.
Karena itu, kegiatan keagamaan, termasuk di lingkungan pesantren dan masyarakat umum, dapat menjadi ruang untuk menanamkan nilai antargenerasi. Generasi tua dapat menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah, sementara generasi muda belajar bahwa kegembiraan dalam beragama perlu diwujudkan dalam kepedulian kepada sesama.
“Kegembiraan yang bersumber dari rahmat Allah akan melahirkan rasa syukur. Syukur melahirkan kepedulian, dan kepedulian melahirkan kemanfaatan nyata bagi sosial. Sebaliknya, kebahagiaan yang berpusat pada ego dan materi hanya akan memicu kesombongan serta kompetisi yang tidak sehat,” tegas Ketua Senat UIN Madura tersebut.
Ia menilai ukuran kegembiraan yang bernilai bukan semata seberapa banyak sesuatu berhasil dimiliki atau dikumpulkan, melainkan sejauh mana kebahagiaan tersebut mendorong perubahan perilaku.
“Semakin seseorang mengenal dan mencintai Rasulullah, semestinya makin lembut akhlaknya, makin luas kepeduliannya, dan makin besar manfaat yang ia bagikan kepada sesama. Kegembiraan paling bernilai bukanlah karena banyaknya hal yang berhasil kita kumpulkan, melainkan karena menyadari rahmat Allah yang kemudian kita bagikan kembali kepada kehidupan,” pungkasnya. (*)






