Pilkades Duko Semakin Dekat, Masyarakat Menanti Sosok Pemimpin yang Mengutamakan Kepentingan Rakyat

Oleh: Basori, Aktivis di Desa Duko

LENSAMADURA.COM– Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Desa Duko, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, semakin dekat. Namun, hingga saat ini belum ada nama bakal calon yang secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk berkontestasi dalam pesta demokrasi tingkat desa tersebut.

Kondisi ini memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Siapa yang akan maju? Dari kalangan mana calon pemimpin berikutnya akan muncul? Dan seperti apa arah persaingan politik dalam Pilkades Desa Duko mendatang?

Di tengah belum jelasnya peta persaingan, berkembang isu mengenai kemungkinan adanya persaingan antara keluarga incumbent dengan keluarga petinggi desa. Meski demikian, isu tersebut masih sebatas perbincangan dan belum dapat dipastikan kebenarannya.

Namun, ada hal yang jauh lebih penting untuk dibicarakan daripada sekadar siapa yang akan berhadapan dengan siapa. Masyarakat Desa Duko sesungguhnya membutuhkan pemimpin yang benar-benar mengutamakan kepentingan masyarakat, bukan pemimpin yang hanya memperjuangkan kepentingan keluarga, kelompok, ataupun lingkaran pendukungnya.

Pilkades bukan ajang mempertahankan kekuasaan keluarga. Bukan pula panggung untuk membuktikan siapa yang paling kuat secara politik. Ini adalah momentum bagi masyarakat untuk menentukan arah masa depan desa melalui pilihan yang bebas dan demokratis.

Masyarakat tentu mengharapkan sosok kepala desa yang hadir ketika warganya membutuhkan, terbuka terhadap kritik, adil dalam memberikan pelayanan, serta tidak membeda-bedakan masyarakat berdasarkan kedekatan, hubungan keluarga, maupun pilihan politik.

Seorang pemimpin desa harus memahami bahwa jabatan kepala desa bukanlah hak istimewa untuk kepentingan pribadi, melainkan amanah dan tanggung jawab besar kepada seluruh masyarakat.

Karena itu, siapa pun yang nantinya berniat maju harus berani menyampaikan visi dan misi secara terbuka. Bukan sekadar janji politik menjelang pemilihan, tetapi gagasan nyata tentang pembangunan infrastruktur, peningkatan pelayanan publik, transparansi pengelolaan anggaran desa, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Desa Duko.

Masyarakat juga perlu mengetahui bagaimana calon pemimpin tersebut akan mewujudkan program-programnya. Sebab, visi tanpa langkah nyata hanya akan menjadi rangkaian kata, sementara misi tanpa komitmen hanya akan berhenti sebagai janji.

Jangan sampai masyarakat hanya dijadikan sebagai objek untuk mendapatkan dukungan menjelang Pilkades, tetapi setelah terpilih justru aspirasi mereka tidak lagi didengar.

Desa Duko membutuhkan pemimpin yang mau turun langsung melihat persoalan masyarakat, mendengarkan keluhan warga, serta menjadikan kepentingan umum sebagai dasar setiap kebijakan pemerintahan desa.

Pada akhirnya, siapa pun yang akan berkontestasi, masyarakat berharap Pilkades berjalan damai, demokratis, dan bermartabat. Perbedaan pilihan jangan sampai memecah persaudaraan dan hubungan sosial antarwarga.

Pesan untuk para calon: jangan hanya berlomba mendapatkan suara masyarakat, tetapi tunjukkan pula bagaimana nantinya akan memperjuangkan kepentingan mereka.

Sebab, yang dibutuhkan Desa Duko bukan sekadar sosok yang ingin menjadi kepala desa, melainkan pemimpin yang bersedia mengabdi, melayani, dan bekerja untuk seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Karena ukuran keberhasilan seorang kepala desa bukan seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat selama ia memegang amanah. (*)