SURABAYA, LensaMadura.com – Pemerintah Provinsi Jawa Timur meraih empat penghargaan dalam peringatan Hari Kearsipan Nasional ke-55 yang diselenggarakan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta Selatan.
Empat penghargaan tersebut meliputi Simpul Jaringan Terbaik Nasional 2026, Simpul Jaringan Terbaik Nasional Lima Tahun Berturut-turut, Pengawasan Kearsipan dengan Predikat AA (Sangat Memuaskan), serta Anugerah Memori Kolektif Bangsa (MKB) untuk Arsip Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) periode 1931-1995.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur Tiat S. Suwardi menerima penghargaan tersebut mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Penghargaan diserahkan langsung oleh Kepala ANRI Mego Pinandito.
Khofifah mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak dalam memperkuat tata kelola kearsipan di Jawa Timur.
“Penghargaan ini merupakan hasil sinergi perangkat daerah, arsiparis, dan berbagai pihak yang selama ini berkomitmen memperkuat pengelolaan arsip,” kata Khofifah dalam keterangan tertulis diterima LensaMadura.com, Jumat, 29 Mei 2026.
Menurut dia, keberhasilan mempertahankan penghargaan Simpul Jaringan Terbaik Nasional selama lima kali menunjukkan pengelolaan arsip di Jawa Timur mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.
Pemprov Jawa Timur, kata Khofifah, terus memperkuat transformasi digital melalui penerapan Sistem Informasi Kearsipan Dinamis Terintegrasi (SRIKANDI), Tata Naskah Dinas Elektronik (TNDE), peningkatan kompetensi arsiparis, serta pembinaan terhadap lembaga kearsipan di tingkat kabupaten dan kota.
Upaya tersebut turut mengantarkan Jawa Timur mempertahankan predikat AA dalam pengawasan kearsipan nasional yang dilakukan ANRI. Predikat itu merupakan nilai tertinggi dalam standar pengawasan kearsipan nasional.
Selain itu, Jawa Timur juga memperoleh Anugerah Memori Kolektif Bangsa atas keberhasilan mengusulkan dan menyelamatkan arsip Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) periode 1931-1995.
Khofifah menilai arsip tersebut memiliki nilai sejarah penting karena merekam perjalanan kehidupan keagamaan dan dinamika sosial masyarakat Jawa Timur sejak masa kolonial hingga era pembangunan nasional.
“Arsip GKJW menjadi bagian dari jejak sejarah toleransi, akulturasi budaya, serta kontribusi masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kegiatan sosial,” ujarnya.
Ia berharap penghargaan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat transformasi kearsipan dan menjaga memori kolektif bangsa sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045. (*)




