oleh: Hordani, Ketua Kopri PMII STIT Aqidah Usymuni Sumenep
LENSAMADURA.COM – Hari ini, 8 Maret 2026, dunia kembali mencatat sejarah. Di berbagai belahan bumi, perempuan dan anak perempuan bersuara, berjejaring, dan bergerak. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusung tema yang sangat kuat tahun ini: “Rights. Justice. Action. For ALL Women and Girls”. Hak Keadilan, Aksi Untuk SEMUA Perempuan dan Anak Perempuan.
Sebagai Ketua KOPRI (Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri) STITA Sumenep, saya menyambut tema ini dengan sukacita sekaligus kesadaran penuh bahwa perayaan ini bukan sekadar seremonial belaka. Ini adalah momentum untuk merefleksikan sejauh mana kita telah berjalan, dan seberapa cepat kita harus melangkah ke depan.
Hak Adalah Pangkal, Bukan Tujuan Tema ini mengingatkan kita bahwa hak adalah fondasi pertama yang harus kokoh berdiri. Hak untuk hidup tanpa rasa takut. Hak untuk belajar setinggi-tingginya. Hak untuk memilih dan dipilih. Hak untuk menentukan jalan hidup sendiri. Hak untuk diperlakukan setara, tanpa diskriminasi.
Di lingkungan kampus dan organisasi, KOPRI hadir untuk memastikan bahwa hak-hak dasar itu tidak hanya tertulis dalam dokumen, tetapi terasa dalam keseharian. Ketika seorang mahasiswi berani menyampaikan pendapat dalam forum, itu adalah hak. Ketika kader KOPRI duduk sejajar dalam struktur pengambilan keputusan, itu adalah hak. Ketika tidak ada lagi ruang yang mengkriminalisasi korban kekerasan seksual, itu adalah hak.
Namun, hak tanpa kesadaran adalah barang mati. Maka tugas kita bersama adalah terus menanamkan kesadaran bahwa hak perempuan adalah hak asasi manusia. Tidak bisa ditawar. Tidak bisa dikompromikan.
Keadilan Adalah Rasa, Bukan Sekadar Angka Keadilan seringkali dipahami secara sempit: cukup dengan kuota, cukup dengan keterwakilan. Tapi keadilan yang sesungguhnya adalah ketika kebijakan hadir merespons kebutuhan riil perempuan. Ketika kampus menyediakan ruang laktasi untuk mahasiswi yang baru melahirkan. Ketika organisasi memberikan dispensasi bagi kader yang sedang haid atau hamil. Ketika tidak ada lagi beban ganda yang dipikul perempuan tanpa dukungan struktural.
Keadilan juga berarti ketika korban kekerasan mendapat pendampingan, bukan interogasi. Ketika pelaku mendapat sanksi setimpal, bukan pembelaan. Keadilan adalah ketika tidak ada lagi perempuan yang harus memilih antara karir dan keluarga, antara organisasi dan pendidikan, antara mimpi dan tekanan sosial.
Di KOPRI, kami percaya bahwa keadilan harus dirasakan, bukan hanya dihitung. Aksi Adalah Bukti, Bukan Janji
Tema ini menempatkan “Aksi” sebagai puncak dari segalanya. Karena hak dan keadilan tanpa aksi hanyalah angan. Aksi adalah ketika kita turun tangan, bukan hanya turun bicara.
Aksi bagi KOPRI adalah ketika kita membentuk posko pengaduan kekerasan seksual di kampus. Aksi adalah ketika kita mendesak kampus memiliki Satgas PPKS (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual) yang bekerja, bukan hanya ada. Aksi adalah ketika kita mengadakan sekolah kepemimpinan bagi kader perempuan agar siap memimpin di semua level.
Aksi juga berarti hadir di tengah masyarakat. Turun ke desa-desa, mendengar keluh kesah perempuan nelayan, petani, buruh. Mengadvokasi kebijakan yang pro-perempuan. Menulis, meneliti, dan mempublikasikan gagasan agar suara kami tidak hanya terdengar di lorong kampus, tetapi juga di ruang publik yang lebih luas.
Untuk SEMUA, Bukan Sebagian Kata “SEMUA” dalam tema ini adalah kata yang paling menantang sekaligus paling indah. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada satu perempuan pun yang tertinggal. Tidak peduli di pulau mana ia lahir, dengan keyakinan apa ia hidup, bagaimana penampilannya, atau apa pilihan hidupnya.
Di Indonesia, dengan ribuan pulau dan ratusan suku, “SEMUA” adalah pekerjaan rumah raksasa. Perempuan di perkotaan menghadapi tantangan berbeda dengan perempuan di pedesaan. Perempuan di Papua menghadapi realitas berbeda dengan perempuan di Aceh. Perempuan difabel menghadapi hambatan yang mungkin tidak kita bayangkan.
KOPRI, dengan jaringannya yang tersebar di seluruh Indonesia, memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa tidak ada kader yang merasa sendiri. Bahwa solidaritas perempuan menembus batas geografis, budaya, dan status sosial. Bahwa “SEMUA” benar-benar berarti semua.
Refleksi untuk PMII dan KOPRI Sebagai bagian dari PMII, kita tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak pekerjaan rumah di internal sendiri. Masih ada struktur yang didominasi laki-laki tanpa melibatkan perspektif perempuan. Masih ada candaan seksis yang dianggap biasa. Masih ada kader perempuan yang diremehkan kapasitasnya.
Hari Perempuan Internasional ini adalah saat yang tepat untuk introspeksi. Apakah PMII sudah cukup ramah terhadap perempuan? Apakah KOPRI sudah benar-benar menjadi rumah yang aman dan memberdayakan? Apakah kita sudah sungguh-sungguh memperjuangkan “Rights. Justice. Action. For ALL Women and Girls” di lingkungan terdekat kita?
Jika belum, mari berbenah. Jika sudah, mari tingkatkan. Karena perjuangan ini tidak pernah usai. Ia akan terus bergulir dari generasi ke generasi.
Harapan dan Doa
Di hari yang istimewa ini, saya ingin menyampaikan beberapa harapan:
Untuk kader KOPRI di seluruh Indonesia: Kalian adalah wajah masa depan. Jangan pernah ragu dengan kapasitas kalian. Bacalah lebih banyak, bertanyalah lebih keras, bergeraklah lebih cepat. Dunia menanti kontribusi kalian.
Untuk para perempuan di luar sana: Kalian tidak sendiri. KOPRI hadir sebagai saudara seperjuangan. Apapun tantangan yang kalian hadapi, ada ruang untuk berbagi, ada tangan untuk membantu.
Untuk para laki-laki yang peduli: Terima kasih telah menjadi sekutu yang setara. Perjuangan kesetaraan gender bukan hanya tugas perempuan. Dukungan kalian sangat berarti.
Untuk bangsa Indonesia: Mari kita wujudkan mimpi di mana anak perempuan lahir dengan mata yang bercahaya, bukan dengan beban budaya yang menindih pundaknya. Mari kita ciptakan Indonesia yang adil bagi semua.
Bergerak Bersama, Tak Pernah Sendiri
Tema “Rights. Justice. Action. For ALL Women and Girls” adalah kompas yang mengarahkan kita ke tujuan yang sama: dunia di mana perempuan dan anak perempuan hidup dengan martabat, kebebasan, dan kesempatan yang setara.
KOPRI, dengan sejarah panjangnya, dengan kadernya yang tersebar di seluruh Nusantara, dengan semangat Aswaja yang mencerahkan, siap menjadi bagian dari gerakan global ini. Kami tidak hanya akan merayakan hari ini, tetapi akan menjadikannya bahan bakar untuk bergerak esok dan seterusnya.
Selamat Hari Perempuan Internasional 2026 untuk semua perempuan dan anak perempuan Indonesia. Untuk yang sedang berjuang di kampus, di pasar, di sawah, di kantor, di rumah, di mana pun kalian berada.
Tetaplah bersuara. Tetaplah bergerak. Karena dunia ini milik kita bersama. (*)






