Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas

oleh: Ghali Ihtifazhuddin Achmad*

LENSAMADURA.COM – Sejarah bangsa ini tidak dapat dipisahkan dari peran pesantren dan kaum santri. Jauh sebelum era kemerdekaan, pesantren telah tumbuh sebagai pusat pendidikan, dakwah, spiritual, pembentukan karakter, dan perlawanan terhadap kolonialisme. Melalui pesantren, tumbuh kekuatan sosial yang menjaga identitas serta martabat bangsa.

Jauh sebelum Indonesia terbentuk sebagai negara-bangsa, keberadaan santri sudah terlacak di negeri ini. Secara embrional, keberadaan pesantren bahkan ada sebelum kerajaan Islam pertama kali di Jawa berdiri, seperti Pesantren Ampel Denta yang dari santrinya juga lahir sistem sebuah kerajaan Giri Kedaton pada akhir abad ke-15 dan Demak Bintoro pada awal abad ke-16 yang tetap menegaskan predikat kesantrian dalam sistem kerajaannya.

Pada abad ke-15, ketika Kesultanan Demak belum berdiri, Walisongo yang juga kaum santri telah memainkan peran penting dalam perjalanan bangsa ini. Perjuangan mereka bukan hanya pada jalur dakwah keagamaan, tetapi juga pendidikan, pemberdayaan masyarakat, pembentukan akhlak, pendekatan kebudayaan, dan membangun keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekedar proses pembelajaran di kelas, melainkan ikhtiar membangun masyarakat yang berpengetahuan, bermartabat, dan memiliki orientas moral. Warisan inilah yang menjadi salah satu akar penting
perjalanan Bangsa Indonesia.

Pada masa-masa selanjutnya, peran ulama dan santri semakin nyata dalam menghadapi kolonialisme. Perlawana Pangeran Diponegoro 1825-1830 memperlihatkan keterlibatan tokoh berlatar belakang agama dalam perjuangan melawan kolonialisme. Salah satu momentum penting keterlibatan kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia terlihat melalui Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang difatwakan oleh Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari yang mewajibkan semua kalangan untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Kini, ketika Indonesia bersiap menuju Indonesia Emas 2045, tantangan santri mengalami perubahan. Perjuangan tidak lagi cukup dimaknai mengangkat senjata terhadap penjajah, tetapi mampu mengaplikasikan Firman Allah, tuntunan Nabi, dan teladan para ulama’ dengan menjawab persoalan kemiskinan, ketimpangan pendidikan, krisis lingkungan, perkembangan kecerdasa buatan, dan perubahan dunia kerja. Santri harus mampu menguasai khazanah keislaman sekaligus memperkuat literasi digital, sains, riset, dan kemampuan berpikir kritis.

Pesantren pun dituntut untuk terus berinovasi tanpa kehilangan identitas keilmuan, adab, dan spiritualitasnya. Pesantren tidak harus memilih antara mempertahankan kitab kuning dan mempelajari teknologi dan kemajuan. Keduanya berada pada ranah yang berbeda tetapi dapat saling menguatkan. Tradisi pesantren memberikan landasan etis, moral, dan pembentukan karakter. Sementara itu, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi memperluas kemampuan santri dalam menjawab tantangan zaman.

Peran santri dan pesantren sekali lagi sangat dibutuhkan untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Indonesia Emas tidak hanya membutuhkan manusia yang unggul di kelas dengan kecerdasan dan teknologi, tetapi juga generasi yang berakhlak, berintegritas, jujur, berkeadilan, berkemandirian, dan berpihak pada kemaslahatan bersama.

Maka, sebagai santri kita harus sadar, perjalanan di pesantren bukan hanya untuk masa depan pribadi, tetapi tanggung jawab dalam memikul peradaban. Jangan hanya bangga menjadi santri dan kejayaan masa lalu; jadilah santri yang kelak dikenang karena sumbangsihnya bagi masa depan. Dari pesantren, kita siapkan generasi yang tidak hanya mampu membaca kitab kuning dan Al-Qur’an, tetapi mampu membawanya dalam kehidupan untuk Indonesia Emas 2045. (*)

* Khadim di Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng, Jombang. Lulusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya, Hafiz Al-Qur’an, dan Wisudawan Terbaik Non-Akademik Tingkat Fakultas dan Universitas.