PAMEKASAN, LensMadura.com – Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam KH Achmad Muhlis mengungkapkan bahwa dalam tradisi pesantren Madura, barokah bukan sekadar istilah religius, melainkan horizon makna yang membentuk cara berpikir, bertindak, dan merasakan kehidupan.
Menurutnya, barokah dipahami sebagai kualitas kebermaknaan yang melampaui ukuran material. Ia hadir dalam ketenangan batin, kemudahan menjalani hidup, serta keberlanjutan kebaikan yang sering kali tidak kasatmata. Dalam konteks pesantren, barokah tidak hadir secara instan, tetapi tumbuh dari kedisiplinan moral dan kebiasaan kecil yang dijaga secara konsisten.
Ia mencontohkan ungkapan lokal Madura seperti “mon e pondok ngeco’ jerum, din depa’ ka romanah ngeco’ jeren” dan “mon e pondok ta’ awirid, din mole ka romanah tak asholat” sebagai refleksi kebijaksanaan yang memiliki kedalaman sosiologis. Ungkapan tersebut menegaskan bahwa arah hidup seseorang ditentukan oleh kebiasaan kecil yang diulang secara terus-menerus.
“Pesantren adalah ruang pembentukan habitus, meminjam istilah Pierre Bourdieu, yakni struktur disposisi yang tertanam dalam diri individu dan membimbing tindakan secara tidak sadar,” ujarnya.
Dalam ruang pesantren, lanjutnya, santri tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga menyerap pola hidup, mulai dari menghormati guru, mengatur waktu, menjaga lisan, hingga membangun relasi spiritual. Kebiasaan kecil yang dilakukan berulang inilah yang membentuk karakter dan arah moral seseorang.
Ia menjelaskan, pelanggaran kecil seperti “mencuri jarum” tidak berhenti sebagai tindakan sesaat, tetapi perlahan membentuk struktur kepribadian yang bisa berkembang menjadi pelanggaran lebih besar. Sebaliknya, kebiasaan baik seperti dzikir akan membangun fondasi psikologis dan spiritual yang kuat.
“Kebiasaan manusia terbentuk dari proses pengulangan. Apa yang dianggap kecil hari ini, akan menentukan standar moral di masa depan,” tegasnya.
Dalam perspektif ini, barokah dipahami sebagai hasil integrasi antara dimensi sosial, psikologis, dan spiritual. Ia muncul ketika kebiasaan lahiriah selaras dengan kesadaran batin. Barokah bukan hanya hasil tindakan, tetapi kualitas kesadaran yang menyertainya.
Lebih jauh, ia menilai konsep barokah juga berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial yang tidak represif. Tanpa mengandalkan sanksi formal, barokah membangun kesadaran internal bahwa setiap tindakan memiliki implikasi luas.
Namun, di tengah masyarakat modern yang cenderung pragmatis, konsep barokah sering kali sulit dipahami karena tidak selalu tampak dan tidak instan. Padahal, justru dalam hal-hal kecil yang konsisten, arah hidup seseorang ditentukan.
Ia menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar tempat belajar, tetapi laboratorium kehidupan. Apa yang dibiasakan di dalam pesantren akan terbawa ke kehidupan di luar.
“Jika dalam ruang yang terkontrol saja seseorang tidak mampu menjaga disiplin, maka di luar, pelanggaran akan lebih mudah terjadi,” jelasnya.
Pada akhirnya, makna barokah dalam tradisi pesantren Madura mengajarkan bahwa kehidupan yang bermakna dibangun dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan kesadaran besar.
“Di tengah dunia yang serba cepat, kita diingatkan untuk kembali pada dasar menjaga integritas dalam hal kecil. Karena apa yang kita ulangi setiap hari akan menjadi siapa kita di masa depan,” pungkasnya. (*)

