SURABAYA, LensaMadura.com – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menilai antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jawa Timur dalam beberapa hari terakhir berkaitan dengan perubahan mekanisme distribusi kuota solar bersubsidi.
Menurut senator yang akrab disapa Ning Lia itu, pemerintah pusat mengubah skema distribusi solar bersubsidi dari kuota tahunan menjadi kuota bulanan.
Perubahan tersebut, kata dia, membuat stok di SPBU lebih cepat menipis menjelang akhir bulan sehingga memicu antrean kendaraan.
“Dulu setiap SPBU diberikan alokasi kuota untuk satu tahun. Sekarang mekanismenya berubah menjadi kuota bulanan, sehingga menjelang akhir bulan stok lebih cepat habis,” kata Lia di Surabaya dikutip pada Rabu, 1 Juli 2026.
Ia memperkirakan antrean kendaraan di SPBU berpotensi menjadi pola yang berulang setiap menjelang pergantian bulan.
“Ke depan kita tidak perlu heran jika antrean mulai terlihat setiap tanggal 22 atau setelahnya. Hal itu karena kuota bulanan di setiap SPBU mulai berkurang,” ujarnya.
Lia mengatakan kondisi tersebut berdampak pada sektor-sektor yang bergantung pada solar bersubsidi, seperti angkutan umum, truk logistik, kendaraan barang, hingga sektor pariwisata. Menurut dia, jika antrean terus terjadi, biaya operasional transportasi dapat meningkat dan berpengaruh terhadap distribusi barang.
Selain itu, Lia menilai pengawasan yang dilakukan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) juga membuat pengelola SPBU lebih berhati-hati dalam menyalurkan solar bersubsidi agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Karena itu, ia meminta pemerintah memberikan penjelasan secara terbuka mengenai penyebab antrean solar agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
“Masyarakat dan pelaku usaha berhak mendapatkan informasi yang jelas. Dengan keterbukaan, pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan dapat mencari solusi agar distribusi solar bersubsidi tetap berjalan lancar tanpa mengganggu aktivitas ekonomi,” katanya.
