Guru Besar UIN Madura: Kurikulum Cinta Jadi Solusi Redam Perundungan hingga “Kacoan”

PAMEKASAN,LensaMadura.com – Fenomena perundungan, roasting, hingga “kacoan” yang marak di ruang pendidikan dan pergaulan dinilai bukan sekadar candaan biasa. Di baliknya, terdapat relasi kuasa, kebutuhan pengakuan, serta cara individu memaknai diri dan orang lain.

Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura, KH. Achmad Muhlis, menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan larangan atau sanksi semata.

Diperlukan pendekatan yang lebih mendasar melalui perubahan cara pandang dan rekonstruksi etika relasional.

“Dibutuhkan kurikulum cinta, yakni al-maḥabbah dan al-muwaḥḥid, yang ditopang kepemimpinan profetik,” ujarnya di Pamekasan, Selasa, 5 Mei 2026.

Menurutnya, praktik perundungan bekerja melalui mekanisme simbolik, seperti bahasa, gestur, dan candaan yang menempatkan seseorang sebagai objek. Dalam konteks ini, ejekan bukan sekadar spontanitas, tetapi cara untuk memperoleh posisi dalam struktur sosial.

Mengacu pada teori kekerasan simbolik, dominasi bisa berlangsung halus bahkan ketika tampak sebagai hiburan.

Roasting yang dianggap wajar berpotensi menormalisasi ketimpangan martabat, sementara “kacoan” yang tidak terarah dapat mengaburkan batas antara keakraban dan pelecehan.

Lebih jauh, perilaku tersebut kerap berakar pada kebutuhan pengakuan, rasa tidak aman, hingga luka psikologis yang belum pulih. Ejekan menjadi mekanisme pertahanan diri untuk merasa lebih unggul.

“Tanpa ruang aman, individu akan mencari validasi melalui dominasi simbolik. Di sinilah kurikulum cinta berperan,” jelasnya.

Ia menjelaskan, al-maḥabbah menempatkan kasih sayang sebagai prinsip utama dalam relasi sosial. Sementara al-muwaḥḥid (kesadaran tauhid) menjadi fondasi moral bahwa semua manusia berada dalam satu kesatuan ciptaan Tuhan.

Pendekatan ini tidak hanya menyentuh aspek sosial, tetapi juga psikologis dan spiritual secara bersamaan. Landasan normatifnya pun jelas, seperti dalam Surah Al-Hujurat ayat 11–12 yang melarang merendahkan, mencela, hingga berprasangka buruk.

“Merendahkan orang lain bukan hanya pelanggaran sosial, tetapi juga pelanggaran terhadap kesadaran tauhid,” tegasnya.

Selain itu, KH. Muhlis menekankan pentingnya kepemimpinan profetik sebagai teladan nyata. Nilai-nilai kasih sayang tidak akan efektif tanpa contoh dari figur otoritas seperti guru, pengasuh, atau pemimpin komunitas.

Dalam praktiknya, pendekatan ini tidak menghapus humor atau perbedaan pendapat, melainkan mengarahkannya.

Roasting dapat menjadi humor reflektif, resistensi menjadi dialog kritis, dan “kacoan” menjadi kreativitas yang membangun.

“Perubahan ini lahir dari pembiasaan, bahasa yang santun, ruang aman, serta keteladanan yang konsisten,” ujarnya.

Ia menegaskan, upaya mengurangi perundungan bukan sekadar mengendalikan perilaku, tetapi membangun kesadaran kolektif. Ketika kasih sayang menjadi budaya dan tauhid menjadi kesadaran bersama, relasi sosial akan bertransformasi dari dominasi menuju penghormatan.

“Dari hati ke struktur sosial, dari niat ke tindakan, di situlah perubahan dimulai,” pungkasnya. (*)

Baca Juga