Dedikasi Masyhur Abadi untuk Madura: Merintis Madurologi hingga Menjaga Peradaban Lokal

PAMEKASAN, LensaMadura.com – Dedikasi mendiang Masyhur Abadi terhadap Pulau Madura melampaui batas asal-usul dan identitas geografis. Meski bukan kelahiran Madura, pemikiran dan pengabdiannya dalam membangun ruang pengetahuan serta menjaga kebudayaan lokal meninggalkan warisan mendalam bagi dunia akademik dan masyarakat.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Madura, Prof. Dr. Erie Hariyanto, mengatakan almarhum merupakan sosok penting dalam peletakan fondasi epistemologi kemaduraan atau yang dikenal dengan istilah Madurologi.

“Saya berinteraksi cukup intens dengan beliau pada periode 2005–2012 dan 2022–2025. Dari situ saya menyaksikan bagaimana almarhum meletakkan Madura sebagai ruang pengetahuan yang utuh pada level epistemologi,” kata Erie.

Bappeda
RSUD
BPRS

Menurut dia, Masyhur Abadi aktif melakukan riset, eksplorasi gagasan, hingga ekspedisi kebudayaan ke sejumlah wilayah seperti Pegayaman, Nongkojajar, kawasan Tapal Kuda, hingga Madura. Langkah itu dilakukan untuk menelusuri jejak diaspora, identitas, dan dinamika peradaban masyarakat Madura.

Erie mengenang, pada 2006 almarhum mulai memperkenalkan istilah Madurologi sebagai pendekatan untuk memahami Madura secara lebih mendalam dan otentik. Gagasan itu kemudian diperkuat melalui terbitnya edisi khusus “Madurologi” dalam Jurnal KARSA.

“Beliau tidak berhenti pada tulisan. Sejak 2006 almarhum menghadirkan banyak tokoh dan pakar ke kampus untuk membangun Epistema Kemaduraan, mulai dari Prof. Mien A. Rifai, Prof. Latif Wiyata, Drs. Kadarisman, hingga KH Kholilurrahman,” ujar Erie.

Saat menjabat Ketua LPPM IAIN/UIN Madura selama sekitar satu dekade, kata Erie, Masyhur Abadi menjadikan Madura—baik secara geografis maupun kultural—sebagai tema utama penelitian, pengabdian masyarakat, dan publikasi ilmiah kampus.

Salah satu gagasan besar yang diprakarsainya adalah penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Madura. Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk pelestarian bahasa ibu agar tetap hidup dan dekat dengan masyarakat.

“Menurut beliau, bahasa daerah akan tetap lestari jika bersanding dengan kitab suci,” kata Erie.

Proses penerjemahan itu berlangsung hampir dua dekade dengan melibatkan para kiai, budayawan, akademisi, serta tim JPS dan LP2Q. Pada 2018, terjemahan Al-Qur’an bahasa Madura tersebut memperoleh tashih dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama.

Kini, fokus kajian Madurologi telah tercantum dalam Statuta UIN Madura dan disandingkan dengan konsep Taneyan Lanjang sebagai identitas masyarakat Madura. Erie menyebut almarhum memiliki cita-cita agar Madurologi dikenal hingga tingkat internasional.

Selain bidang budaya dan akademik, Moh. Masyhur Abadi juga mendorong penguatan riset lingkungan, maritim, dan pemberdayaan masyarakat marginal. Ia menggagas pengembangan kebun raya kampus khas Madura sebagai bagian dari masa depan ekologi pulau.

Di bidang sejarah dan budaya, almarhum mendorong kajian tentang Sape Sono’, budaya tengka, kapal tradisional Suprik, hingga penguatan kembali supremasi maritim Madura.

Sementara dalam bidang sosial ekonomi, ia memperjuangkan nasib petani garam, petani tembakau, buruh tani, hingga pekerja migran Indonesia asal Madura melalui konsep Sinergi Pemberdayaan Bersama Masyarakat (SIBERMAS).

Menutup keterangannya, Erie mengatakan Masyhur Abadi meninggalkan peta jalan dan cetak biru pengembangan Madura yang harus dilanjutkan generasi muda.

“Beliau selalu menagih kami untuk membuktikan gagasan-gagasan itu. Kini almarhum telah berpulang, tetapi cita-cita dan peta risetnya sudah diwariskan. Tugas generasi penerus adalah melanjutkan perjuangan itu demi menjaga keabadian Madura melalui Madurologi,” ujarnya. (*)