BANGKALAN, LensaMadura.com – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, S.Sos.I., M.E.I. atau Ning Lia, menilai persoalan pascakonflik perlu mendapat perhatian lebih panjang. Menurut dia, berakhirnya kekerasan bukan berarti persoalan sosial di tengah masyarakat selesai.
Pandangan itu disampaikan Ning Lia saat menghadiri bedah buku Diaspora Madura: Resiliensi, Strategi, dan Transformasi Pasca-konflik Etnik karya Prof. Dr. Abdur Rozaki, S.Ag., M.Si., pada Minggu, 23 Agustus 2026.
Kegiatan berlangsung di ruang VIP Rumah Makan Bebek Sinjay Baru, Madura. Forum tersebut dihadiri sejumlah kiai, pejabat, dan pengusaha.
Buku tersebut membahas perjalanan masyarakat diaspora Madura setelah mengalami konflik melalui tiga gagasan utama: resiliensi, strategi, dan transformasi.
Resiliensi merujuk pada kemampuan masyarakat untuk bangkit dari pengalaman traumatis sekaligus beradaptasi dengan lingkungan sosial baru. Sementara strategi ditunjukkan melalui upaya memperluas akses pendidikan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, melawan stereotip etnik, serta membangun organisasi yang dapat menciptakan ruang publik inklusif, moderat, dan toleran.
Adapun transformasi terlihat dari perubahan peran diaspora Madura di tengah masyarakat. Mereka tidak hanya mempertahankan tradisi budaya dan perdagangan, tetapi juga mulai memasuki ruang politik formal sebagai anggota legislatif maupun eksekutif.
Menurut Ning Lia, kekuatan buku tersebut salah satunya terletak pada cara penulis melihat kehidupan masyarakat setelah konflik dalam perspektif jangka panjang.
“Konflik selalu menarik perhatian ketika darah masih mengalir. Setelah kekerasan berhenti dan masyarakat mulai menata kembali kehidupannya, perhatian pun perlahan menghilang. Seolah-olah sejarah berakhir ketika senjata diletakkan,” kata Ning Lia kepada nusainsider.com, Minggu, 23 Agustus 2026.
Ia mengatakan fase setelah konflik justru menjadi periode penting dalam proses pemulihan. Pada tahap itu, masyarakat harus membangun kembali kepercayaan, memperbaiki hubungan sosial, dan menciptakan ruang kehidupan bersama yang lebih damai.
Ning Lia mengaitkan pandangan tersebut dengan konsep peacebuilding yang dikembangkan John Paul Lederach. Dalam Building Peace (1997), Lederach menjelaskan bahwa perdamaian tidak hanya dibangun melalui kesepakatan politik, tetapi juga melalui pemulihan hubungan sosial dan kepercayaan di tengah masyarakat.
Dalam konteks masyarakat Madura, menurut Ning Lia, pesantren, organisasi kemasyarakatan, dan forum lintas etnik dapat menjadi ruang strategis untuk membangun kembali kepercayaan tersebut.
Ia juga melihat gagasan dalam buku Abdur Rozaki memiliki keterkaitan dengan pemikiran Ashutosh Varshney dalam Ethnic Conflict and Civic Life (2002). Varshney menekankan pentingnya jejaring sipil lintas etnik dalam mencegah dan meredam konflik.
Ning Lia menilai pengalaman diaspora Madura menunjukkan bahwa perdamaian tidak cukup dibangun melalui slogan toleransi. Perdamaian membutuhkan interaksi sosial yang terus berlangsung dan hubungan antarkelompok yang dibangun secara konsisten.
“Melihat optimisme buku ini, saya kira saya perlu membaca secara detail terlebih dahulu sebelum banyak berkomentar,” ujarnya.
Menurut Ning Lia, buku tersebut membuka ruang untuk melihat masyarakat Madura tidak hanya dari pengalaman konflik, tetapi juga dari kemampuan mereka untuk bangkit, beradaptasi, dan mengambil peran baru dalam kehidupan sosial.
Kehadirannya dalam bedah buku itu sekaligus menjadi bagian dari komunikasi Ning Lia dengan berbagai kelompok masyarakat di Madura. Sebagai anggota DPD RI, ia tidak hanya bertemu masyarakat melalui agenda resmi, tetapi juga mengikuti forum sosial dan intelektual yang mempertemukannya dengan kiai, pejabat, pengusaha, serta tokoh masyarakat.
Pertemuan semacam itu menjadi ruang untuk bertukar pandangan mengenai persoalan sosial, budaya, dan pembangunan di daerah.
Bagi Ning Lia, komunikasi langsung dengan masyarakat merupakan bagian dari menjalankan fungsi representasi sebagai senator. Aspirasi dan pandangan yang muncul dari daerah dapat menjadi bahan dalam menjalankan tugasnya di tingkat nasional.
Bedah buku Diaspora Madura pada akhirnya tidak hanya menjadi forum membahas sebuah karya akademik. Diskusi tersebut juga membuka percakapan mengenai bagaimana masyarakat membangun kembali kepercayaan, memperkuat hubungan sosial, dan menciptakan kehidupan bersama setelah melewati pengalaman konflik. (*)







