SUMENEP, LensaMadura.com – Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep menjadi rujukan Pemerintah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dalam pengembangan tata kelola pendidikan berbasis budaya.
Melalui kunjungan kerja studi tiru yang berlangsung di Rumah Dinas Bupati Sumenep, Pemkab Brebes mempelajari berbagai program pendidikan yang dinilai berhasil mengintegrasikan pelestarian budaya ke dalam proses pembelajaran, Selasa, 4 Agustus 2026.
Rombongan dipimpin langsung Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma. Mereka diterima Wakil Bupati Sumenep KH Imam Hasyim didampingi Kepala Disdik Sumenep Mohamad Iksan, Sekretaris Dinas Pendidikan, jajaran kepala bidang, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Faruk Hanafi, serta sejumlah pejabat terkait dari kedua daerah.
Dalam forum tersebut, Disdik Sumenep memaparkan berbagai program strategis yang telah dijalankan, mulai dari peningkatan mutu pendidikan, penguatan tata kelola pendidikan yang transparan, pengembangan sarana dan prasarana, hingga pelestarian budaya lokal melalui satuan pendidikan.
Paparan itu kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengenai pengembangan kebijakan daerah, peningkatan kualitas layanan pendidikan, serta penguatan seni, budaya, dan kearifan lokal sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.
Kepala Disdik Sumenep, Mohamad Iksan, mengatakan, kegiatan tersebut menjadi wadah untuk memperkuat sinergi dan silaturahmi antardaerah melalui pertukaran pengalaman serta inovasi di bidang pendidikan.
“Melalui pertukaran pengalaman dan inovasi, masing-masing daerah diharapkan dapat mengadopsi berbagai praktik baik yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik wilayahnya. Ini menjadi langkah bersama untuk meningkatkan mutu pendidikan,” kata Iksan.
Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma mengatakan, Kabupaten Sumenep dipilih sebagai lokasi studi tiru karena dinilai berhasil mengelola sektor pendidikan yang berpadu dengan pelestarian kebudayaan.
“Kami hari ini bersama Sekda, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata datang ke Kabupaten Sumenep untuk belajar mengenai pengelolaan pendidikan dan kebudayaan. Kami melihat Sumenep memiliki kekayaan budaya yang sangat unik dan luar biasa,” ujar Paramitha.
Menurut dia, ketertarikan Pemerintah Kabupaten Brebes terhadap budaya Madura telah tumbuh sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan pada 2025, Pemerintah Kabupaten Brebes mengundang kesenian musik Uldaul dari Madura untuk tampil dalam agenda kebudayaan di daerahnya.
“Tahun lalu kami mengundang pertunjukan musik Uldaul. Mudah-mudahan tahun ini kami kembali bisa menghadirkan kebudayaan dari Sumenep maupun Pamekasan agar masyarakat Brebes semakin mengenal kekayaan budaya Madura,” katanya.
Selama berada di Sumenep, rombongan juga mengunjungi museum dan sejumlah situs peninggalan Kerajaan Sumenep. Menurut Paramitha, pengalaman tersebut menjadi referensi penting dalam upaya pelestarian sejarah dan budaya di Kabupaten Brebes.
“Kami ingin belajar bagaimana Sumenep mampu melestarikan museum dan peninggalan sejarah. Menghargai sejarah berarti menghargai jasa para pendahulu. Hal-hal baik seperti ini tentu patut kami contoh,” ujarnya.
Selain itu, Paramitha mengaku terkesan dengan strategi Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam mengembangkan sektor kebudayaan yang berdampak pada pariwisata. Menurut dia, penyelenggaraan kegiatan budaya yang mampu menarik sekitar 200 ribu pengunjung meski didukung anggaran yang relatif terbatas menjadi pelajaran berharga bagi daerahnya.
“Strategi seperti ini menjadi pelajaran berharga bagi kami, terutama di tengah keterbatasan kemampuan fiskal daerah. Ketika jumlah kunjungan wisata meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pariwisata, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Di bidang pendidikan, Paramitha menilai kebijakan Pemerintah Kabupaten Sumenep yang mengintegrasikan budaya lokal ke dalam proses pembelajaran layak menjadi contoh. Menurut dia, muatan lokal seperti bahasa Madura, kesenian daerah, hingga permainan tradisional dikenalkan kepada peserta didik sejak jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMP.
“Model pendidikan seperti ini sangat baik karena anak-anak dikenalkan sejak dini terhadap bahasa daerah, kesenian, dan permainan tradisional. Kami juga memiliki budaya lokal di Brebes, termasuk gamelan dan Bahasa Brebesan. Konsep seperti ini akan kami pelajari untuk diterapkan agar generasi muda tidak melupakan identitas budayanya,” kata Paramitha.
Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab, diskusi interaktif, penyerahan cendera mata sebagai simbol persahabatan antardaerah, serta foto bersama. (*)
