BANGKALAN, LensaMadura.com – Keluarga dinilai memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan masyarakat saat menerima dan menyebarkan informasi di ruang digital. Karena itu, kemampuan memeriksa informasi sebelum mempercayai atau membagikannya perlu dibangun sejak lingkungan keluarga.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya (UNESA) bertajuk “Literasi Digital Keluarga untuk Menangkal Hoaks dan Polarisasi Sosial” di Desa Telang, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, Minggu, 20 September 2026.
Kegiatan yang diikuti masyarakat Desa Telang itu menghadirkan Yuristiarso Hidayat, S.Sos., M.H. dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur sebagai narasumber.
Yuristiarso mengatakan literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan telepon seluler atau media sosial. Masyarakat juga perlu mampu memahami isi informasi, menelusuri sumber, serta memeriksa kebenarannya sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
“Literasi digital hari ini bukan hanya soal bagaimana kita menggunakan handphone atau media sosial. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu memahami informasi, memeriksa sumbernya, dan memastikan kebenarannya sebelum kita percaya atau menyebarkannya kepada orang lain,” ujar Yuristiarso.
Ketua Bidang OKK SMSI Jawa Timur itu menilai keluarga menjadi lingkungan pertama untuk membangun kebiasaan tersebut. Orang tua, kata dia, tidak cukup hanya mengawasi penggunaan gawai anak, tetapi juga perlu membangun komunikasi dan mengajarkan cara berpikir kritis.
“Keluarga adalah benteng pertama dalam menghadapi hoaks. Orang tua tidak hanya perlu mengawasi penggunaan gadget anak, tetapi juga membangun kebiasaan berdiskusi dan mengajarkan anak untuk berpikir kritis terhadap informasi,” kata Yuris.
Yuristiarso juga berprofesi sebagai peneliti Sygma Research and Consulting serta pendamping desa di Kabupaten Gresik. Ia diketahui pernah menghabiskan masa anak-anak di Kabupaten Bangkalan.
Dosen Ilmu Politik UNESA sekaligus perwakilan penyelenggara, Ken Bimo Sultoni, mengatakan perkembangan ruang digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi sekaligus membentuk pandangan terhadap berbagai persoalan sosial dan politik.
“Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan ruang digital secara kritis dan bertanggung jawab. Kita tidak ingin masyarakat hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pengguna informasi yang kritis,” ujar Bimo.
Menurut dia, perbedaan pandangan merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, perbedaan tersebut perlu dikelola agar tidak berkembang menjadi konflik akibat informasi yang keliru maupun komunikasi yang tidak sehat.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diajak membangun kebiasaan saring sebelum sharing, memeriksa sumber informasi, tidak mudah terpancing narasi provokatif, serta menggunakan media digital secara bijak.
Prodi Ilmu Politik UNESA berharap literasi digital yang dimulai dari keluarga dapat memperkuat ketahanan masyarakat terhadap hoaks. Kemampuan tersebut juga diharapkan membantu menjaga kerukunan sosial di tengah derasnya arus informasi digital. (*)






