PAMEKASAN, LensaMadura.com – Minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning, Pamekasan, mulai terlihat jauh sebelum masa penerimaan peserta didik.
Untuk penerimaan tahun 2029 yang diperuntukkan bagi siswa SD/MI kelas 4, sebanyak 42 calon santri telah tercatat sebagai santri inden dari total kuota 120 kursi. Dengan demikian, masih tersedia 78 kursi.
Sementara itu, untuk penerimaan tahun 2030 bagi siswa SD/MI kelas 3, tercatat 33 santri inden dari kuota 120 kursi. Sebanyak 87 kursi masih tersedia.
Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, mengatakan daftar inden tersebut bukan sekadar angka jumlah calon peserta didik.
“Bagi pengelola, angka tersebut bukan alasan untuk berbangga secara berlebihan, melainkan sebuah pesan moral: semakin awal kepercayaan datang, semakin panjang amanah yang harus dipersiapkan,” ujar Muhlis, Senin (31/8/2026).
Ketua Senat UIN Madura itu mengatakan pendidikan merupakan proses jangka panjang. Anak-anak yang saat ini masih duduk di kelas 3 dan 4 SD/MI nantinya akan memasuki dunia yang terus berubah, termasuk perkembangan teknologi digital dan perubahan sosial.
Karena itu, menurut Muhlis, persiapan pendidikan tidak cukup hanya dengan menyediakan ruang kelas. Lembaga pendidikan juga harus menyiapkan pembelajaran, karakter, keterampilan, dan nilai keagamaan yang sesuai dengan tantangan masa depan.
Atas dasar itu, MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning menjadikan kepercayaan masyarakat sebagai dorongan untuk terus meningkatkan mutu pendidikan.
Peningkatan tersebut mencakup kualitas pembelajaran, penguatan karakter, pembinaan keagamaan, penciptaan lingkungan pendidikan yang sehat, serta layanan pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Madrasah tidak ingin sekadar menjadi tempat anak memperoleh pengetahuan. Madrasah harus menjadi ruang tempat ilmu bertemu dengan adab, kecerdasan bertemu dengan spiritualitas, kebebasan berpikir bertemu dengan tanggung jawab, dan kemajuan zaman tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman,” kata Muhlis.
Menurut dia, pendidikan seharusnya tidak hanya berorientasi pada pengetahuan yang diperoleh siswa, tetapi juga pada karakter dan kualitas manusia yang terbentuk setelah memperoleh pendidikan.
Konsep tersebut kemudian dirumuskan melalui Sembilan Bintang, yang terdiri dari tujuh pilar utama dan dua pilar penopang.
Sembilan Bintang menjadi arah pengembangan ekosistem pendidikan di MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning agar pembentukan santri berlangsung secara menyeluruh. Aspek akademik, karakter, keagamaan, keterampilan, kemandirian, literasi, serta kesiapan menghadapi perubahan zaman dipadukan dalam satu konsep pendidikan.
Muhlis menilai jumlah santri inden juga menjadi gambaran mengenai ekspektasi masyarakat terhadap lembaga pendidikan.
Menurut dia, kepercayaan yang diberikan masyarakat justru harus menjadi bahan evaluasi bagi pengelola untuk memastikan mutu pendidikan yang disiapkan mampu menjawab kebutuhan peserta didik di masa mendatang.
“Lembaga pendidikan yang sehat bukanlah lembaga yang merasa telah selesai ketika mendapatkan kepercayaan, tetapi lembaga yang menjadikan kepercayaan itu sebagai alasan untuk terus belajar, berbenah, berinovasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan,” ujarnya.
Dengan masih tersedianya 78 kursi untuk penerimaan 2029 dan 87 kursi untuk penerimaan 2030, MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning masih membuka ruang bagi calon santri yang ingin mengikuti program inden.
Muhlis menegaskan, proses penerimaan tersebut bukan semata-mata mengenai pemenuhan kuota, tetapi bagian dari persiapan jangka panjang lembaga dalam memberikan pendidikan yang bermutu.
“Karena pendidikan bukan tentang seberapa cepat kita memenuhi kursi, melainkan seberapa sungguh kita mempersiapkan manusia yang kelak duduk di dalamnya. Dan setiap kepercayaan yang datang lebih awal adalah amanah untuk menghadirkan pendidikan yang semakin bermutu, berkeadilan, berkarakter, religius, dan relevan dengan zaman,” katanya. (*)






