SUMENEP, LensaMadura.com – Nuansa Keraton dan Pendopo Sumenep hadir dalam konsep stan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep pada Madura Night Vaganza di GOR A. Yani Pangligur, Kamis, 27 Agustus 2026.
Konsep tersebut tidak sekadar menjadi elemen dekorasi. Bappeda menjadikannya sebagai cara untuk menyampaikan pesan tentang identitas daerah sekaligus hubungan antara kebudayaan, kepemimpinan, dan perencanaan pembangunan.
Salah satu elemen yang ditonjolkan adalah Pendopo Sumenep, yang disebut dengan istilah mandapa dalam bahasa Madura. Istilah itu berasal dari kata mandap yang bermakna rendah.
Filosofi tersebut menggambarkan kerendahan hati, kedekatan, dan kebersamaan pemimpin dengan masyarakat. Dalam sejarahnya, pendopo juga menjadi ruang pertemuan antara penguasa dan masyarakat untuk berkumpul, bermusyawarah, menyampaikan aspirasi, hingga mencapai kesepakatan.
Nilai itu dinilai sejalan dengan peran Bappeda dalam mengoordinasikan perencanaan pembangunan yang partisipatif, terpadu, terarah, dan berkelanjutan.
Kepala Bappeda Kabupaten Sumenep, Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN Eng., mengatakan filosofi mandapa mengingatkan bahwa pembangunan tidak cukup hanya dirancang dari balik meja. Perencanaan, kata dia, harus berangkat dari kebutuhan dan aspirasi masyarakat.
“Mandapa memiliki makna rendah. Filosofi ini mengajarkan tentang kerendahan hati, kedekatan dengan masyarakat, dan pentingnya ruang untuk bermusyawarah,” ujar Arif.
Desain stan juga mengambil inspirasi dari arsitektur Pendopo Agung Keraton Sumenep dengan atap berbentuk limasan sinom dan tiang-tiang utama yang dikenal sebagai soko guru.
Bagi Bappeda, unsur Keraton tersebut merepresentasikan tata nilai, keteraturan, kepemimpinan, serta kesinambungan sejarah. Nilai itu kemudian diterjemahkan ke dalam tugas Bappeda untuk menata arah pembangunan agar memiliki tujuan yang jelas, terukur, dan selaras antarsektor.
“Bagi kami, budaya bukan sekadar ornamen. Budaya adalah identitas dan pijakan dalam membangun daerah,” kata Arif.
Ia mengatakan stan tersebut sekaligus ingin memperkenalkan Bappeda sebagai “rumah perencanaan pembangunan daerah”, tempat gagasan, aspirasi, data, dan arah kebijakan dipertemukan.
“Bappeda adalah rumah tempat gagasan, aspirasi, data, dan arah kebijakan dipertemukan. Dari sanalah kita menyusun perencanaan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan merancang masa depan Sumenep,” ujarnya.
Melalui konsep tersebut, Bappeda membawa pesan bahwa pembangunan masa depan tetap perlu berpijak pada akar budaya. Keraton menjadi simbol jati diri, pendopo menjadi ruang musyawarah, sedangkan Bappeda berperan menghubungkan nilai-nilai masa lalu dengan arah pembangunan di masa depan.
“Keraton sebagai simbol jati diri, Pendopo sebagai ruang musyawarah, dan Bappeda sebagai rumah perencanaan. Semuanya bermuara pada satu semangat: berpijak pada budaya, menata pembangunan, dan merancang masa depan Sumenep,” kata Arif. (*)







