SUMENEP, LensaMadura.com – Potensi beras merah sebagai salah satu produk pangan lokal Desa Bragung, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Annuqayah Guluk-Guluk mengembangkan bentuk olahan baru.
Tim KKN Posko 26 menggelar pelatihan pembuatan wedang beras merah instan di Pondok Pesantren (PP) Mathla’un Najah Angsanah, Desa Bragung, Jumat, 4 September 2026.
Pelatihan yang digagas Divisi PKM dan Penelitian KKN Posko 26 itu melibatkan santri putri dan pengurus pondok. Peserta diperkenalkan pada cara mengolah beras merah menjadi minuman instan yang lebih praktis sekaligus memiliki potensi nilai tambah.
Kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi. Para santri juga mengikuti praktik langsung, mulai dari menyiapkan bahan, mengolah beras merah, mencampurkan bahan, hingga mengemas produk.
Melalui praktik tersebut, peserta diharapkan memiliki pengalaman yang dapat diterapkan kembali secara mandiri, baik untuk kebutuhan di lingkungan pondok maupun di rumah.
Salah satu penyaji dari Divisi PKM dan Penelitian, Kamelia Maulida Fajrin, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan pemanfaatan produk lokal kepada masyarakat, khususnya para santri.
“Pengadaan pelatihan pembuatan wedang beras merah instan ini diadakan guna membantu santri dalam mengelola produk lokal Desa Bragung, yakni beras merah,” ujar Kamelia.
Menurut dia, beras merah memiliki sejumlah kandungan dan manfaat yang membuatnya potensial untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan. Karena itu, pengolahan dalam bentuk minuman instan diharapkan dapat menjadi alternatif pemanfaatan bahan pangan lokal.
Kamelia mengatakan keterampilan pengolahan tersebut penting agar potensi bahan pangan lokal tidak hanya berhenti sebagai bahan konsumsi, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih praktis dan bernilai tambah.
“Dengan adanya pelatihan ini, kami berharap santri tidak hanya mengetahui manfaat beras merah, tetapi juga memiliki keterampilan untuk mengolahnya menjadi produk yang bisa dibuat secara mandiri,” katanya.
Ketua KKN Posko 26, Anisatul Qamariyah, mengatakan pemanfaatan potensi lokal menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa selama menjalankan program KKN di Desa Bragung.
“KKN Posko 26 Universitas Annuqayah Guluk-Guluk berupaya memberikan kontribusi dalam meningkatkan keterampilan santri melalui pemanfaatan potensi lokal Desa Bragung. Kami berharap pelatihan ini dapat menjadi langkah awal bagi santri untuk lebih kreatif dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai tambah,” ujar Anisatul.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai. Para santri diharapkan dapat mencoba kembali proses pembuatan dan mengembangkan olahan beras merah sesuai kebutuhan.
Pelatihan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa bahan pangan yang tersedia di desa dapat dikembangkan menjadi produk dengan bentuk dan manfaat yang lebih beragam. Bagi mahasiswa KKN, pengenalan teknologi pengolahan sederhana menjadi salah satu cara untuk mendorong masyarakat melihat potensi lokal dari sudut pandang yang lebih luas. (*)






