JAKARTA, LensaMadura.com – Kementerian Perhubungan memperkuat kompetensi sumber daya manusia di bidang keselamatan pelayaran melalui Bimbingan Teknis Pengujian Penimbalan Kompas (Compass Adjuster) Tahun Anggaran 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, 7–11 September 2026, di Hotel Yuan Garden Pasar Baru, Jakarta Pusat, itu diikuti 50 peserta dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
Direktur Perkapalan dan Kepelautan Kemenhub Samsuddin mengatakan ketepatan peralatan navigasi merupakan bagian mendasar dalam menjaga keselamatan pelayaran. Salah satunya pedoman magnet atau magnetic compass yang menjadi rujukan nakhoda dan perwira kapal dalam menentukan arah dan haluan.
“Keandalan peralatan navigasi, termasuk pedoman magnet atau magnetic compass, harus senantiasa dijaga dan dipastikan dapat berfungsi dengan baik. Karena itu, kompetensi personel yang melakukan penimbalan pedoman menjadi bagian penting dalam mendukung keselamatan navigasi,” ujar Samsuddin.
Menurut dia, pedoman magnet tidak terlepas dari berbagai faktor yang dapat memengaruhi akurasinya. Kemagnetan kapal, medan magnet bumi, perubahan konstruksi maupun perlengkapan kapal, lokasi dan arah haluan, serta kondisi lingkungan dapat menimbulkan compass error.
Kesalahan dalam menentukan compass error maupun proses penimbalan berpotensi membuat informasi arah menjadi tidak akurat dan meningkatkan risiko kesalahan navigasi.
“Kesalahan penimbalan atau penentuan compass error dapat menyebabkan ketidaktepatan informasi arah dan meningkatkan risiko kesalahan navigasi. Karena itu, penimbalan pedoman harus dilakukan secara profesional, cermat, dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Karena itu, Kemenhub menekankan perlunya keseragaman metode dan standar penimbalan pedoman di seluruh Indonesia. Standar yang seragam diharapkan menghasilkan pengujian yang lebih andal sehingga mendukung navigasi kapal yang aman dan akurat.
Dalam bimbingan teknis tersebut, peserta mempelajari prinsip kerja pedoman magnet, berbagai sumber kesalahan, metode penimbalan, serta tata cara pengujian dan verifikasi hasil penimbalan. Materi diberikan oleh narasumber dari KSOP Kelas I Tanjung Emas dan AMSAT International.
Pembekalan tidak berhenti pada materi di ruang kelas. Peserta juga menjalani praktik lapangan di Pelabuhan Tanjung Priok untuk melihat langsung proses pengujian dan penimbalan kompas magnetik, termasuk upaya memperkecil deviasi agar informasi arah navigasi kapal lebih akurat.
Advisor dan Tenaga Ahli Ilmu Kepelautan dan Pelayaran AMSAT International Capt. Hari Purwadi mengatakan praktik lapangan menjadi bagian penting karena peserta dapat menerapkan metode yang sebelumnya dipelajari secara teori.
“Melalui praktik lapangan, peserta dapat memahami secara langsung bagaimana mengidentifikasi deviasi, melakukan penimbalan, serta memastikan hasil penimbalan kompas dapat mendukung ketepatan informasi arah kapal. Kompetensi ini penting untuk mendukung keselamatan navigasi,” ujar Hari.
Samsuddin berharap kegiatan tersebut tidak hanya menambah pengetahuan peserta, tetapi juga memperkuat kemampuan teknis mereka ketika menjalankan tugas di lapangan.
“Peserta diharapkan mampu melaksanakan penimbalan pedoman secara profesional dan bertanggung jawab guna mendukung keselamatan navigasi serta pelayaran nasional yang berstandar internasional,” katanya. (*)
