Investor China dan UEA Masuk Pengembangan Kawasan Industri Wiraraja di Bangkalan

SURABAYA, LensaMadura.com – Pengembangan Wiraraja Madura Industrial Estate (WMIE) III di Kabupaten Bangkalan memasuki tahap baru dengan masuknya mitra dari China dan Uni Emirat Arab (UEA).

PT Wiraraja Madura Internasional mempertemukan dua mitra tersebut dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, Jumat (11/9/2026). Pertemuan itu juga dihadiri Bupati Bangkalan serta sejumlah pejabat Pemprov Jawa Timur.

Dua mitra yang terlibat masing-masing Suzhou Artisans Decoration Engineering Co., Ltd. (SADE) dari China dan ODASCO LLC dari Dubai, UEA. Keduanya diarahkan untuk menggarap dua kebutuhan utama kawasan, yakni pengembangan industri manufaktur dan penyediaan infrastruktur utilitas.

Presiden Direktur PT Wiraraja Madura Internasional sekaligus Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Akhmad Ma’ruf Maulana, mengatakan perkembangan tersebut memperkuat peluang Bangkalan menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri baru di Jawa Timur.

“Posisi Bangkalan strategis sebagai pintu gerbang Madura dan terhubung langsung dengan Surabaya melalui Jembatan Suramadu. Sekarang yang kami dorong adalah bagaimana keunggulan lokasi itu diterjemahkan menjadi investasi, kegiatan ekonomi dan lapangan kerja,” kata Ma’ruf.

Di sektor manufaktur, Wiraraja dan SADE telah menandatangani Joint Development Agreement (JDA) untuk pengembangan fasilitas manufaktur furnitur di WMIE III.

Proyek tersebut direncanakan menempati lahan sekitar 10 hektare dengan estimasi investasi USD 10 juta. Nilai final investasi masih akan ditetapkan berdasarkan rencana proyek dan struktur investasi yang disepakati para pihak.

Fasilitas yang direncanakan mencakup pabrik manufaktur furnitur, lini produksi, mesin dan peralatan, pergudangan, logistik serta fasilitas pendukung. SADE juga akan membawa teknologi manufaktur, mesin, peralatan dan production know-how untuk mendukung pengembangan fasilitas tersebut.

Kehadiran delegasi China sekaligus membawa jejaring industri yang lebih luas, termasuk Home Easy Renovation Platform, Kamar Dagang Anhui di Suzhou, Suzhou Home Furnishing Association serta sejumlah perusahaan di bidang furnitur, teknologi dan konstruksi.

Sementara itu, ODASCO diarahkan untuk mendukung pengembangan infrastruktur utilitas kawasan. Perusahaan engineering developer, EPC dan operasi yang berbasis di Business Bay, Dubai, tersebut memiliki pengalaman di bidang pengolahan air, desalinasi dan energi.

Kerja sama dengan ODASCO mencakup penjajakan pembangunan fasilitas pengolahan dan desalinasi air laut, pengolahan air permukaan, energi terbarukan berbasis solar photovoltaic (PV), opsi battery storage atau sistem hibrida, pengolahan air limbah domestik dan industri serta berbagai utilitas pendukung kawasan.

Skema yang dijajaki menggunakan model jangka panjang berbasis OPEX/build-own-operate. Dalam skema tersebut, ODASCO diproyeksikan menangani desain, pembiayaan, pengadaan, konstruksi hingga pengoperasian fasilitas.

Namun, struktur tarif dan aspek komersial masih akan dirumuskan setelah melalui studi kelayakan dan due diligence.

Menurut Ma’ruf, pembangunan industri tidak dapat dipisahkan dari kesiapan utilitas. Ketersediaan air, energi, pengolahan limbah, logistik dan infrastruktur yang andal menjadi bagian penting dalam menentukan daya saing kawasan.

“Kami tidak ingin menunggu investor masuk baru menyiapkan infrastrukturnya. Kawasan harus semakin siap ketika kebutuhan industri tumbuh. Karena itu, masuknya manufaktur dan penyiapan utilitas kami dorong berjalan beriringan,” ujarnya.

Vice President Business and Board Member ODASCO LLC, Khalid Odeh Al Salem, mengatakan pihaknya melihat peluang investasi jangka panjang di Madura, khususnya Bangkalan.

“Kami melihat potensi yang kuat di Madura, khususnya di Bangkalan, sebagai destinasi baru bagi investasi industri. Kami optimistis mengenai peluang untuk berinvestasi dan mengembangkan solusi infrastruktur jangka panjang di sini,” kata Khalid.

Ia menilai pembangunan utilitas harus dirancang dengan mempertimbangkan pertumbuhan kebutuhan industri dalam jangka panjang.

“Bagi kami, ini adalah tentang membangun infrastruktur yang mampu mendukung industri dalam jangka panjang. Madura memiliki peluang untuk berkembang, dan kami ingin menjadi bagian dari pertumbuhan tersebut,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan apresiasi terhadap kepercayaan investor untuk mengembangkan bisnis di Jawa Timur.

Pemprov Jawa Timur juga menyatakan dukungan terhadap percepatan pengembangan kawasan, termasuk proses pengusulan WMIE sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN), dengan tetap mengikuti kualifikasi dan regulasi yang berlaku.

Khofifah mengingatkan bahwa investasi pada akhirnya harus memberikan dampak yang lebih luas bagi daerah dan masyarakat.

“Setiap investasi adalah sebuah trust. Kita tentu berharap investasi tersebut memberikan multiplier effect yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Khofifah.

Pesan tersebut sejalan dengan orientasi Wiraraja dalam mengembangkan WMIE. Ma’ruf mengatakan ukuran keberhasilan kawasan industri tidak semata dilihat dari jumlah pabrik yang berdiri, tetapi juga dari aktivitas ekonomi yang muncul di sekitarnya.

“Investasi harus menghasilkan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, menumbuhkan UMKM dan industri pendukung, serta menciptakan rantai ekonomi baru,” katanya.

Karena itu, Wiraraja menempatkan tenaga kerja lokal sebagai salah satu prioritas. Perekrutan akan diarahkan untuk mengutamakan masyarakat Bangkalan dan sekitarnya dengan tetap menyesuaikan kompetensi serta kebutuhan industri.

“Kami ingin masyarakat Bangkalan menjadi pihak yang pertama merasakan manfaat ketika investasi dan industri mulai beroperasi. Tenaga kerja lokal akan kami prioritaskan sesuai kompetensi yang dibutuhkan,” ujar Ma’ruf.

Penyiapan tenaga kerja juga dilakukan melalui sinergi dengan Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Kerja sama tersebut diarahkan untuk menghubungkan kebutuhan industri dengan pendidikan, pelatihan dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Menurut Ma’ruf, langkah tersebut penting agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton ketika kawasan industri berkembang.

“Kebutuhan tenaga kerja harus dipetakan sejak awal, kemudian disambungkan dengan pendidikan, pelatihan dan sertifikasi. Dengan cara itu, anak-anak muda Bangkalan dan Madura memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bekerja dan berkembang bersama industri,” katanya.

Sebagai Ketua Umum HKI, Ma’ruf melihat kawasan industri dapat menjadi instrumen untuk membentuk pusat pertumbuhan ekonomi baru. Investasi, infrastruktur, utilitas, tenaga kerja, logistik dan rantai pasok dapat dibangun dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Bagi Bangkalan, kedekatan geografis dengan Surabaya dan posisinya sebagai pintu gerbang Madura dinilai menjadi modal penting untuk menghubungkan kawasan tersebut dengan ekosistem industri dan pasar Jawa Timur.

“Bangkalan memiliki kesempatan untuk menjadi gerbang industrialisasi Madura. Yang ingin kami bangun adalah ekosistem ekonomi yang tumbuh bersama masyarakat,” ujarnya.

Ma’ruf menambahkan, dukungan pemerintah provinsi dan kabupaten diperlukan untuk menjaga momentum pengembangan kawasan. Sejumlah aspek yang perlu dikoordinasikan antara lain tata ruang, pertanahan, kelistrikan, air, perizinan dan infrastruktur pendukung.

“Pemerintah provinsi dan kabupaten memberikan dukungan, investor mulai masuk, utilitas dipersiapkan dan SDM lokal mulai kami siapkan. Kami ingin momentum ini dijaga agar Bangkalan benar-benar tumbuh menjadi salah satu motor baru pertumbuhan ekonomi Jawa Timur,” pungkasnya. (*)