BANGKALAN, LensaMadura.com – Rencana masuknya investor asing untuk mengembangkan kawasan industri di Kabupaten Bangkalan, Madura, mendapat respons positif dari sejumlah tokoh masyarakat. Industrialisasi dinilai dapat membuka peluang kerja baru sekaligus mendorong warga Madura meningkatkan keterampilan.
Tokoh perempuan asal Bangkalan, Alwiyah Maulidiyah, mengatakan rencana tersebut semestinya diikuti kesiapan sumber daya manusia. Menurut dia, etos kerja yang selama ini melekat pada masyarakat Madura perlu disertai kemampuan dan keahlian yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Orang Madura yang dikenal memiliki etos kerja tinggi, budaya andhap asor (sopan santun), prinsip lebih baik putih tulang ketimbang putih mata, dalam konteks kekinian harus ditunjukkan dengan kesiapan berdaya saing. Penguatan SDM dan kapasitas diri menjadi kunci,” kata perempuan yang akrab disapa Dial Hasan itu kepada LensaMadura.Com, Kamis, 27 Agustus 2026.
Alumni Universitas Indonesia (UI) jurusan Teknik Gas dan Petrokimia tersebut mengatakan, nilai-nilai budaya Madura juga perlu diterapkan dalam dunia kerja. Ia menilai komitmen, kejujuran, dan sikap dapat dipercaya merupakan bagian penting dari etos kerja.
Dial Hasan berujar, pelanggaran terhadap komitmen atau tengka (red Madura) bukan hanya persoalan pribadi, tetapi dapat berpengaruh terhadap kepercayaan orang lain kepada masyarakat Madura.
“Ketika ada orang Madura tidak bisa dipegang dalam hal komitmen tertentu atau urusan tengka, itu bentuk pengkhianatan pada nilai luhur ke-Madura-an itu sendiri. Efeknya, kepercayaan akan menurun,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta masyarakat Madura mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan berkembangnya industri di Bangkalan. Selain kemampuan bekerja keras, kata dia, calon tenaga kerja perlu memiliki keterampilan teknis yang dibutuhkan perusahaan.
Dial Hasan mengatakan, etos kerja saja tidak cukup. Dunia industri membutuhkan tenaga kerja yang mampu bekerja secara profesional dan memiliki kompetensi sesuai bidangnya.
“Kerja keras penting, tetapi harus diikuti kerja cerdas dengan skill yang mumpuni. Dengan keahlian itulah dunia industri lebih mudah menerima kita sebagai tenaga kerja profesional,” katanya.
Selama ini, kata dia, banyak orang Madura yang bekerja di berbagai daerah dengan beragam profesi. Mereka merantau karena mencari peluang ekonomi yang belum tersedia secara memadai di daerah asal.
Lebih lanjut, Dial Hasan mengatakan rencana industrialisasi di Bangkalan dapat menjadi kesempatan agar sebagian peluang tersebut hadir lebih dekat dengan masyarakat Madura.
“Saat harus merantau jauh demi peluang kerja, kini akan ada peluang di Madura. Harus dimanfaatkan. Bukan malah ditolak. Masak Madura akan merawat kemiskinan terus,” ujar mantan pengurus pusat Partai Gerindra tersebut.
Namun, ia mengingatkan industrialisasi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan identitas dan kearifan lokal. Menurut dia, masyarakat Madura perlu tetap menjaga nilai religius, moral, serta budaya yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
“Ketahanan moral dan masyarakat yang religius harus menjadi benteng agar budaya luar tidak mudah menggeser nilai-nilai ke-Madura-an,” ujarnya.
Dial Hasan merupakan aktivis yang telah berkecimpung dalam berbagai kegiatan sejak masa pendidikan. Baginya, pendidikan menjadi salah satu modal penting agar perempuan dapat terus berkiprah di ruang publik.
Ia menyelesaikan pendidikan magister bidang Dakwah Islam di Universitas As-Syafi’iyah, Bekasi. Selain pendidikan, ia juga menekuni dunia usaha dan pernah terlibat dalam sejumlah perusahaan.
Salah satunya PT Nusantara Multi Sarana, perusahaan kontraktor yang disebut menjadi rekanan Mabes TNI AU. Riwayat pendidikan, organisasi, pekerjaan, dan aktivitas lainnya tercantum dalam grafis yang menyertai profilnya.
Dial Hasan merupakan putri bungsu Syarifah Khadidjah, mantan anggota DPR RI dari daerah pemilihan Madura selama empat periode sekaligus mantan Ketua PW Muslimat NU Jawa Timur.
Ia berharap generasi muda Madura, terutama perempuan, tidak mengabaikan pendidikan dan memiliki keberanian untuk berwirausaha. Menurut dia, perempuan memiliki posisi penting dalam membentuk karakter generasi berikutnya.
“Generasi muda Madura, khususnya perempuan, harus tertanam kesadaran pentingnya pendidikan dan semangat wirausaha. Perempuanlah sekolah pertama di ranah keluarga bagi anak-anak. Perannya sungguh mulia,” katanya. (*)

