SUMENEP, LensaMadura.com – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep memperkuat kapasitas kader posyandu melalui supervisi fasilitatif pembudayaan hidup bersih dan sehat.
Kegiatan tersebut berlangsung di Posyandu Desa Ambunten Tengah, Kecamatan Ambunten, pada Rabu, 2 September 2026. Kegiatan melibatkan kader dari delapan posyandu, aparat desa, bidan desa, dan perawat desa.
Kepala Dinkes P2KB Sumenep, drg Ellya Fardasah, mengatakan supervisi fasilitatif dilakukan untuk memastikan pelayanan posyandu berjalan sesuai standar sekaligus membantu kader meningkatkan kualitas kerja di lapangan.
“Supervisi ini bukan untuk mencari kesalahan kader. Kami ingin melihat apa yang menjadi kendala, kemudian memberikan pendampingan dan mencari solusi bersama agar pelayanan kepada masyarakat semakin baik,” kata Ellya.
Menurut dia, kader merupakan salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Karena itu, pembinaan dan penguatan kemampuan kader perlu dilakukan secara berkelanjutan.
“Kader berhadapan langsung dengan masyarakat. Mereka perlu mendapatkan dukungan dan pembekalan yang cukup agar semakin percaya diri dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Tim Promosi Kesehatan (Promkes) Dinkes P2KB Sumenep memberikan edukasi mengenai demam berdarah dengue (DBD) yang disampaikan Nurul Kamaria.
Peserta juga mendapatkan edukasi mengenai program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang disampaikan Yuli Mahendra. Sementara bimbingan teknis bagi kader diberikan Ahmad Nawakil.
Selain peningkatan kapasitas, supervisi juga mencakup evaluasi pengelolaan administrasi posyandu, terutama pencatatan dan pelaporan. Berbagai hambatan teknis yang ditemui kader menjadi bahan pembahasan untuk mendapatkan penyelesaian secara bersama.
Ellya mengatakan komunikasi dua arah menjadi bagian penting dalam pendekatan supervisi fasilitatif. Pola pembinaan tersebut diharapkan membuat kader tidak hanya menerima arahan, tetapi juga dapat menyampaikan persoalan yang mereka hadapi di lapangan.
“Komunikasi harus dua arah. Kader bisa menyampaikan kendala, sementara tenaga kesehatan memberikan dukungan dan solusi. Dengan begitu, pembinaan menjadi lebih efektif,” kata dia. (*)
