SUMENEP, LensaMadura.com – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep terus memperkuat edukasi kepada ibu hamil dan kader untuk meningkatkan cakupan skrining bayi baru lahir.
Sosialisasi digelar di Balai Desa Kalimook, Kecamatan Kalianget, pada Senin, 24 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menyasar ibu hamil, kader, dan bidan desa.
Sosialisasi tersebut dilaksanakan oleh Tim Kerja Kesehatan Ibu dan Anak Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes P2KB Sumenep.
Kepala Dinkes P2KB Sumenep, drg Ellya Fardasah, mengatakan skrining bayi baru lahir menjadi bagian penting dalam upaya mendeteksi gangguan kesehatan sedini mungkin. Pemeriksaan tersebut juga diarahkan untuk mendukung penurunan angka kematian bayi.
“Semakin cepat gangguan kesehatan pada bayi diketahui, semakin cepat pula langkah penanganan dapat dilakukan. Karena itu, kami terus mendorong agar cakupan skrining bayi baru lahir semakin meningkat,” kata Ellya.
Dalam sosialisasi tersebut, ibu hamil diberikan pemahaman mengenai sejumlah gangguan bawaan tersembunyi yang dapat membahayakan bayi. Mereka juga diedukasi agar memiliki kesiapan psikologis untuk menyetujui pemeriksaan medis setelah bayi dilahirkan.
Salah satu materi yang ditekankan adalah pengambilan sampel darah melalui tumit bayi. Pengambilan sampel idealnya dilakukan ketika bayi berusia 24 hingga 72 jam setelah lahir.
Menurut Ellya, pemahaman mengenai waktu pemeriksaan penting agar orang tua tidak melewatkan periode pengambilan sampel yang dianjurkan.
“Orang tua perlu mengetahui bahwa ada waktu yang ideal untuk pengambilan sampel. Karena itu, edukasi kepada ibu hamil harus dilakukan sebelum persalinan sehingga mereka sudah memahami prosedurnya,” ujarnya.
Selain ibu hamil, kader mendapat pembekalan untuk memperkuat perannya sebagai agen edukasi kesehatan di masyarakat. Kader diharapkan menjadi penghubung informasi dari tenaga kesehatan kepada keluarga di tingkat RT/RW dan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP).
Kader juga didorong membantu mengidentifikasi dan mendata ibu hamil yang telah mendekati hari perkiraan lahir (HPL). Data tersebut dapat membantu tenaga kesehatan memastikan bayi yang baru lahir mendapatkan skrining sesuai waktu yang dianjurkan.
“Kader sangat penting karena mereka yang paling dekat dengan masyarakat. Mereka bisa membantu mengingatkan keluarga dan memberikan pemahaman agar orang tua tidak menolak skrining yang penting bagi kesehatan bayi,” kata Ellya. (*)






